Minggu, 14 Juni 2009

Jurnal_Lina Setiawati_5115083385

HUBUNGAN PENGETAHUAN DASAR KOMPUTER
TERHADAP HASIL BELAJAR KOMUNIKASI DATA
(Sebuah Studi di Jurusan Teknik Eektro, FT UNJ)

Suryadi
Alumni Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro, 2005

Lina Setiawati
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro

Hubungan Pengetahuan Dasar Komputer terhadap hasil belajar Komunikasi Data bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Pengetahuan Dasar Komputer terhadap hasil pembelajaran mata kuliah Komunikasi Data. Pengetahuan dasar komputer merupakan hal dasar yang harus dipelajari karena dapat menambah dan membekali mahasiswa dalam penguasaan suatu sistem komputer. Mahasiswa Teknik Elektro yang mengambil mata kuliah Komunikasi Data harus mengetahui terlebih dahulu dasar-dasar komputer. Penelitian survei dilakukan dengan teknik korelasi. Populasinya adalah mahasiswa program non-reguler jurusan Teknik Elektro 2004/2005 yang mengambil matakuliah Komunikasi Data sebanyak 40 orang.

Kata Kunci: Pengetahuan Dasar Komputer, Komunikasi Data,Teknik Korelasi

Sejalan dengan lajunya perkembangan dunia teknologi moderen saat ini, banyak mengakibatkan perubahan kehidupan manusia dalam menangani setiap permasalahan yang ada hubungannya dengan proses pembangunan secara menyeluruh. Sekarang ini kemajuan teknologi dalam pengunaan data dan informasi yang tepat dan akurat sudah mengalami kemajuan yang sangat drastis. Penerapan sistem data dan informasi sebenarnya tidak terlepas dari penanganan suatu sistem informasi.

Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi tersebut, maka manusia telah menciptakan suatu peralatan canggih yang di sebut komputer. Komputer adalah system elektronik untuk memanipulasi data yang cepat dan tepat serta di rancang dan diorganisasikan supaya secara otomatis menerima dan menyimpan data input, memprosesnya dan menghasilkan output di bawah pengawasan suatu langkah-langkah instruksi program yang tersimpan di memori. Komputer dapat menangani suatu sistem informasi cepat, tepat, dan akurat dalam waktu yang singkat tanpa terdesak oleh keterbatasan waktu. Selain itu komputer bukan saja dapat menangani sekedar informasi, namun juga mampu menangani berbagai proses perhitungan dan analisis ilmiah maupun perusahaan dengan kecepatan yang tinggi dan biaya yang memadai.

Komputer di bagi menjadi tiga perangkat yaitu, perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan faktor manusia (brainware). Faktor manusia diperlukan untuk menangani sistem komputer itu sendiri, yang terdiri dari analisis, programmer, operator, dan diri sendiri. Pengetahuan Dasar Komputer sangat penting. Di jurusan teknik elektro, HMJ mengadakan Pelatihan Dasar Komputer untuk mahasiswa baru dan lama. Pelatihan Dasar Komputer pernah menjadi mata kuliah yaitu mata kuliah Dasar Komputer pada kurikulum di jurusan. Yang membahas tentang perkembangan alat bantu komputansi, jenis komputer, organisasi komputer, peripheral komputer, bahan-bahan pemrograman, kecenderungan perangkat komputer, dan program-program terapan dan penggunaannya. Namun mata kuliah ini di hapus sejak 1999/2000 karena untuk efektivitas pengembangan mata kuliah di jurusan.
Pengetahuan Dasar Komputer sangat berhubungan dengan mata kuliah Komunikasi Data karena prinsip dasar komputer mempermudah komunikasi data. Di dalam Komunikasi Data membahas tentang penggunaan dan struktur jaringan data; lapisan fisik data link berupa protocol, slidding windows; network berupa routing, congesti,transport dan seision, presentasi dan aplikasi. Pada mata kuliah ini pengetahuan dasar computer sangat diperlukan karena sistem komunikasi data memiliki hardware dan software yang harus digunakan untuk dapat membuat jaringan komputer sehingga komunikasi data dapat dijalankan. Bila kita memahami prinsip dari dasar computer maka kita dapat dengan mudah memahami materi serta perangkat komunikasi data yang digunakan.

Penggunaan metode survei dengan penelitian korelasi (ex post facto). Metode survei dilakukan dengan memberikan tes Pengetahuan Dasar Komputer kepada mahasiswa yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar Pengetahuan Dasar Komputer yang dimiliki oleh mahasiswa. Penelitian korelasi bertujuan untuk mengetahui hubungan Pengetahuan Dasar Komputer terhadap hasil belajar Komunikasi Data dan seberapa erat hubungannya.

Definisi Komputer
computare→ to compute→ menghitung
Komputer adalah alat elektronik yang dapat menerima input data, dapat mengolah data, dapat memberikan informasi, menggunakaan suatu program yang tersimpan di memori komputer, dapat menyimpan program dan hasil pengolahan, bekerja secara otomatis.

Siklus Pengolahan Data

Data adalah kumpulan kejadian yang diangkat dari suatu kenyataan. Pengolahan adalaha manipulasi dari data ke dalam bentuk yang lebih berguna dan berarti.Informasi adalah hasil dari kegiataan pengolahan data yang memberikan bentuk yang lebih berarti dari suatu kejadian.

Sistem Komputer
Jaringan dari elemen-elemen yg saling berhubungan, membentuk satu kesatuan untuk melaksanakan suatu tujuan pokok. elemen-elemen itu di antaranya: hardware adalah peralatan dari sistem komputer yang secara fisik terlihat dan terjamah, software adalah program yang berisi perintah untuk melakukan pengolaahan data, brainware merupakan manusia yang terlibat dalam mengoperasikan serta mengatur sistem komputer.
Pengenalan Hardware
Komponen Pokok Hardware Komputer :
1. Alat Input
2. Alat Proses
3. Alat Penyimpanan
4. Alat Output
5. Alat Komunikasi

Pengenalan Software
 Bahasa Pemrograman
• Bahasa Mesin : Assembler
• Bahasa Tingkat Tinggi
 Menggunakan Compile sebagai penterjemah: LISP, Cobol, RPG, dan sebagainya.
 Menggunakan Interpreter sebagai penterjemah: Basic, Pascal, Bahasa C, dan sebagainya.
• Bahasa Generasi Ke-4 ; Informix, Oracle, dan sebagainya.
 Paket Aplikasi
• Word Star, dBase-II, Lotus 1-2-3, dan lain-lain.
• MS-Word, MS-Excell, MS-Power Point, dan lain-lain
 Sistem Operasi
• IBM–DOS, MS-DOS
• WINDOWS
• UNIX
• LINUX
Pengenalan Brainware
• Sistem Analis
Orang yang merancang suatu system.
• Progammer
Orang yang membuat program
• End-User
Orang yang menggunakan komputer secara langsung

Pengenalan Dasar Jaringan Komputer
Jaringan komputer adalah sekumpulan peralatan komputer yang dihubungkan agar dapat saling berkomunikasi dengan tujuan membagi sumber daya (seperti file dan printer).
Agar jaringan dapat berfungsi, dibutuhkan layanan-layanan yang dapat mengatur pembagian sumber daya.
Dibutuhkan aturan-aturan (protocols) yang mengatur komunikasi dan layanan-layanan secara umum untuk seluruh sistem jaringan

Sistem Komunikasi
Jaringan komputer ↔ jaringan komunikasi data ↔ sistem komunikasi. Pertukaran data minimal antar dua entitas
Komunikasi dan Jaringan Komputer

Transmisi Data :
 Media Transmisi (Kabel, Satellite Sistem, Laser System).
 Kapasitas Channel Transmisi (Voice Band, Wideband).
 Tipe Channel Transmisi (One-Way, Either-Way, Both-Way).
 Kode Transmisi (ASCII code, SBCDIC code).
 Mode Transmisi (Serial, Synchronous, Asynchronous).
 Protocol : suatu kumpulan dari aturan yang berhubungan dengan komunikasi data.

Hardware Komunikasi Data
 Modem, untuk merubah data dari bentuk digital ke analog
 Multiplexer, memungkinkan beberapa signal komunikasi menggunakan sebuah channel transmisi bersama-sama
 Concentrator, menggabungkan beberapa signal data dari channel transmisi kapasitas rendah ke kapasitas tinggi
 Communication Processor, mengontrol arus data yang masuk ke CPU

Jenis-Jenis Jaringan
• Berdasarkan koneksi (keterhubungan):
 Broadcast Links
 Point-to-point Links
• Berdasarkan topologi:
 Bus
 Star
 Ring
 Dan lain-lain
• Berdasarkan skala:
 Local Area Network (LAN)
 Metropolitan Area Network (MAN)
 Wide Area Network (WAN)
 Internetwork (internet)
• Berdasarkan protokol:
 Ethernet
 Token Ring
 Dan lain-lain
• Berdasarkan arsitektur
 Peer-to-peer
 Client/Server
 hybrid

LAN
• Jaringan komputer lokal yang dimiliki oleh sebuah organisasi, dimana perangkat jaringan yang saling terhubung terletak didalam sebuah gedung atau antar gedung yang berjarak beberapa km.
• Teknologi:
 Ethernet LAN
 Wireless LAN

MAN
• Jaringan komputer yang jangkauannya mencakup kota.
• Teknologi: jaringan TV kabel
Contoh MAN:
Internet melalui Sistem TV Cable


WAN
• Jaringan komputer yang cakupannya lebih luas dari LAN, yaitu dari negara sampai benua.
• Teknologi:
 Circuit Switching
 Packet Switching
 Frame Relay
 Asynchronous Transfer Mode (ATM)
 Jaringan wireless seluler


Internet
Merupakan sekumpulan jaringan berbeda (LANs, WANs, atau keduanya) yang saling terkoneksi.


Client/Server
• Definisi:
 Server (back end) adalah penyedia layanan yang menyediakan akses ke sumber daya jaringan
 Client (front end) adalah komputer yang meminta layanan dari server
• Client/Server yaitu jaringan komunikasi data yang terdiri dari banyak client dan satu atau lebih server.
• Keuntungan:
 Penyimpanan data yang terpusat memberikan kemudahan untuk pengelolaan dan backup data
 Penggunaan spesifikasi server yang optimal mempercepat proses komunikasi di jaringan
 Kemudahan mengatur user dan sharing peralatan mahal
 Keamanan lebih terjamin
• Kekurangan:
 Biaya pembelian hardware dan software server
 Dibutuhkan administrator jaringan

Peer-to-Peer
• Sebuah workgroup, dimana setiap komputer dapat berfungsi sebagai client dan server sekaligus
• Keuntungan:
 Tidak ada biaya tambahan untuk pembelian hardware dan software server
 Tidak diperlukan administrator jaringan
• Kekurangan:
 Sharing sumber daya membebani proses di komputer yang bersangkutan
 Keamanan tidak terjamin.

Hybrid
• Menggabungkan keuntungan jaringan client/server dan peer-to-peer.
• User dapat mengakses sumber daya yang di-share oleh jaringan peer-to-peer, dan secara bersamaan dapat menggunakan sumber daya yang disediakan oleh server.

Perangkat Jaringan
• Alat pemroses (PC, printer, IP phone, laptop, PDA, mobile phone, dan lain-lain) yang sama dengan host
• Network Interface Card
• Media Transmisi
 Kabel - wired: twisted pair, coaxial dan fibre optic.
 Wireless: antena, microwave, broadcast radio, infrared, dan bluetooth.
• Repeater, Hub, Bridge, Switch, Router dan Gateways atau node.

Arsitektur Protokol
• Merupakan perangkat lunak dari jaringan komunikasi data yang terdiri dari layer, protocol, dan interface
• Jaringan diorganisasikan menjadi sejumlah level (layer) untuk mengurangi kerumitannya.
• Setiap layer dibuat berdasarkan layer dibawahnya.
• Antar layer terdapat sebuah interface yang menentukan operasi dan layanan yang diberikan layer terbawah untuk layer diatasnya.
• Layer pada level yang sama di dua host yang berbeda dapat saling berkomunikasi dengan mengikuti sejumlah aturan dan ketetapan yang disebut sebagai protokol.
• Dua model:
 OSI (hanya sebuah konsep)
 TCP/IP (digunakan secara komersial)

Hubungan antara Layer dan Layanan
Model OSI
• Open Source Interconnection
• Dibuat oleh International Standard Organization untuk memberikan model umum untuk jaringan komunikasi data
• Terdiri dari 7 layer:
o Physical layer
o Data link layer
o Network layer
o Transport layer
o Session layer
o Presentation layer
o Application layer


Hasil Penelitian

Pengetahuan Dasar Komputer

No Kelas
Interval frekuensi absolute
(fi) Nilai tengah
(xi) frekuensi
komulatif frekuensi relative
(%) fi . Xi
1. 60-64 2 63 2 5 124
2. 65-69 13 67 15 32,5 871
3. 70-74 9 72 24 22,5 648
4. 75-79 6 77 30 15 462
5. 80-84 4 82 34 10 328
6. 85-89 6 87 40 15 522
∑ 40 447 100 2955

Komunikasi Data

No Kelas
Interval frekuensi absolute
(fi) Nilai tengah
(xi) frekuensi
komulatif frekuensi relative
(%) fi . Xi
1. 53-57 3 55 3 7,5 165
2. 58-62 6 60 9 15 360
3. 63-67 11 65 20 27,5 715
4. 68-72 11 70 31 27,5 770
5. 73-77 6 75 37 15 450
6. 78-82 3 80 40 7,5 240
∑ 40 447 100 2700

Sample dari mahasiswa non-reguler yang mengambil mata kuliah Komunikasi Data sebanyak 40 orang. Hasil pada Pelatihan Dasar Komputer nilai terendah 62, nilai tertinggi 88, nilai rata-rata (mean) 74, nilai tengah (median) 72,27, nilai yang sering muncul (modus) 68,17, dan simpangan baku 3,27. Sedangkan hasil pada Komunikasi Data nilai terendah 55, nilai tertinggi 80, nilai rata-rata (mean) 67,5, nila tengah (median) 67,5, nilai yang sering muncul (modus) 67,5, dan simpangan baku 3,3.

Untuk memudahkan melakukan interpretasi mengenai kekuatan hubungan antara dua variabel penulis memberikan kriteria sebagai berikut (Sarwono:2006):
o 0 : Tidak ada korelasi antara dua variabel
o >0 – 0,25: Korelasi sangat lemah
o >0,25 – 0,5: Korelasi cukup
o >0,5 – 0,75: Korelasi kuat
o >0,75 – 0,99: Korelasi sangat kuat
o 1: Korelasi sempurna

Hipotesis bahwa Pengetahuan Dasar Komputer mempunyai hubungan positif terhadap hasil belajar Komunikasi Data terbukti dengan teknik korelasi, ini dapat di lihat dari range hasil perhitungan yaitu sebesar 0,99 yang menunjukkan korelasi sangat kuat. Oleh karena itu, bagi mahasiswa yang akan mengambil mata kuliah Komunikasi Data harus terlebih dahulu mengetahui Pengetahuan Dasar Komputer dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan yang ada.

Kesimpulan
• Menunjukkan adanya hubungan yang berarti (positif) antara Pelatihan Dasar Komputer terhadap hasil belajar Komunikasi Data. Jika nilai Pelatihan Dasar Komputer tinggi maka nilai Komunikasi Data juga akan tinggi, begitu juga sebaliknya.
• Range dari hasil teknik korelasi menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat bahwa hasil belajar Komunikasi Data dapat dipengaruhi oleh Pelatihan Dasar Komputer.

Saran
• Kepada pihak jurusan disarankan memberikan Pelatihan Dasar Komputer kepada mahasiswa dengan mengadakan pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh BEM sebagai pelaksananya, untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa yang berhubungan dengan mata kuliah komputer (Komunikasi Data).
• Dosen memberikan gambaran Pelatihan Dasar Komputer kepada mahasiswa sebelum melakukan perkuliahan Komunikasi Data.
• Mahasiswa mempelajari Pelatihan Dasar Komputer sebelum mengikuti mata kuliah Komunikasi Data agar dapat memperoleh hasil belajar yang baik.

Daftar Pustaka

NK, Roestiyah. Didaktik Metodik. Jakarta : Bina Aksara,1986.
Rostiyah. Masalah- Masalah Ilmu Keguruan. Jakarta : Bina Aksara,1989.
Rusmadi, Dedi. Cara Memilih Sebuah Komputer. Bandung :M2S IKAPI,1998
Sutedjo, Budi. Konsep dan Perancangan Jaringan Komputer. Yogyakarta : Andi,2003
Sudjana. Metode Statistika. Bandung : Tarsito,1996.
Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 1999.
Sudjana. Dasar-Dasar Mengajar. Bandung: Sinar BAru, 1998.
Depdikbud IKIP Jakarta.Buku Pedoman Kegiatan Akademik FPTK. Jakarta: Depdikbud IKIP Jkarta,1999.
Hartono, Jogiyanto. Pengenalan Komputer. Yogyakarta: Andi,2000.
Nazir, Moh.. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia,1989.
Nur Kancana, Wayan. Evaluasi Pendidikan. Surabaya:Usaha Nasional,1982.
Tim Pelaksana Modul Litbang. Modul Pelatihan Dasar Komputer. Jakarta:Litbang HMJ TE,2003.
Tim Pelaksana Modul Litbang. Modul Pelatihan Dasar Komputer. Jakarta:Litbang HMJ TE,2002.
Sudijono, Anas. Pengantar Statistika Pendidikan. Jakarta: Rajawali,1987.
Supranto, J.. Statistik Teori dan Aplikasi. Jakarta : Erlangga,1991.
http://Ilmu komputer.com/Jaka Fahrial/ Teknik Konfigurasi LAN/Jaka-lan/PDF
http://Ilmu komputer.com/Yuhefizar/ Tutorial Komputer Jaringan/Yuhefizar-komputer/PDF
http://Ilmu komputer.com/Wahyu Kelik/ Pengantar Pengkabelan Ja
ringan/kelik kabel/PDF
http://lecture.eepsis-its.edu/Nanang/Manual/Komdat/ KOMDAT I/PDF
http://lecture.eepsis-its.edu/Nanang/Manual/Komdat/ KOMDAT 4/PDF

Kamis, 11 Juni 2009

DEVI YUSRINA RIZKIANI 5115083379

Pengaruh Hasil Belajar Fisika Dasar II Terhadap Minat Memilih
Program Studi Teknik Elektronika Komunikasi
(Suatu Studi di Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ)


Marjianto, 5215 97 0880
Devi Yusrina Rizkiani, 5115 08 3379
Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Jakarta

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara hasil belajar Fisika Dasar II terhadap minat memilih program studi teknik elektronika komunikasi di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta. Penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa angkatan 2002 pada semester ganjil tahun akademik 2003/2004. Metode penelitian yang digunakan adalah ekspost fakto dengan teknik pengambilan sampling acak sederhana. Hipotesis yang diajukan bahwa minat memilih program studi tersebut secara sampel dipengaruhi oleh hasil belajar Fisika Dasar II. Namun, berdasarkan data yang didapat dari hasil kuesioner yang disebarkan, pada populasi tersebut hasil belajar Fisika Dasar II tidak mempengaruhi minat memilih program studi teknik elektronika komunikasi.

Kata kunci : minat, Fisika Dasar II, program studi teknik elektronika komunikasi, hasil belajar.


Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran. Kegiatan pengajaran tersebut diselenggarakan pada semua jenjang pendidikan yang meliputi wajib belajar sembilan tahun, pendidikan menengah, perguruan tinggi serta pendidikan non-formal lainnya.
Perguruan tinggi sebagai jajaran tertinggi dalam sistem pendidikan merupakan tempat pembentukkan sumber daya manusia yang diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memadai dalam penguasaan, pengembangan serta menemukan terobosan di bidang pengetahuan dan teknologi.
Perguruan tinggi yang ada saat ini (baik negeri maupun swasta) memiliki banyak jurusan yang memberikan banyak pilihan kepada setiap calon mahasiswanya untuk menempuh pendidikan tinggi sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Minat yang dimiliki tersebut merupakan langkah awal dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan. Untuk selalnjutnya, minat tersebut direalisasikan dengan proses pemilihan jurusan.
Memilih program studi teknik elektronika komunikasi juga merupakan perwujudan dari minat. Secara sederhana, kita ketahui bahwa minat tersebut muncul akibat adanya kesenangan terhadap sesuatu. Sedangkan kesenagan itu timbul akibat adanya informasi-informasi yang didapat sangatlah menarik pada awalnya, sehingga adanya keingintahuan lebih lanjut mengenai hal yang disenangi tersebut.
Dalam hal ini, Fisika Dasar II merupakan media pemberian informasi mengenai ilmu kelistrikan dan kemagnetan. Dengan adanya kesenangan terhadap mata kuliah Fisika Dasar II tersebut, memang sudah sewajarnya mahasiswa memilih program studi teknik elektronika komunikasi. Karena pada dasarnya Fisika Dasar II dan teknik elektronika komunikasi saling berhubungan, yaitu membahas pengembangan medan listrik yang nantinya berkedudukan sebagai medium komunikasi. Namun, apakah pada prakteknya matakuliah Fisika Dasar II dapat menumbuhkan minat mahasiswa dalam memilih program studi teknik elektronika komunikasi? Simaklah jurnal berikut!

Minat
Menurut Sikun Pribadi, salah satu faktor dalam diri manusia yang memberikan pengaruh cukup besar mengenai sukses belajar di perguruan tinggi adalah ketepatan/kesesuaian mahasiswa memilih jurusan. Masalah jurusan yang dipilih bertalian erat dengan minat (interest) atau arah perhatian sesuatu yang disenangi serta adanya bakat khusus.
Sebelum memilih program studi, adalah hal yang penting mengetahui minat mahasiswa terhadap program studi yang dipilih. Sebab, minat berhubungan erat dengan proses belajar mahasiswa nantinya.
Jika dalam memilih program studi tidak sesuai dengan minat maka yang terjadi adalah mahasiswa belajar hanya untuk menghindari nilai jelek, bukan untuk mendapat pengetahuan yang sebenarnya. Mahasiswa yang memiliki minat yang rendah akan berpengaruh pada rendahnya motivasi untuk berkompetisi dengan teman-temannya.
Minat adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk tertarik pada suatu obyek, dengan kata lain adanya rasa senang terhadap suatu obyek. Seseorang yang memiliki minat yang besar terhadap suatu ilmu pengetahuan, akan dengan senang hati belajar pengetahuan tersebut.
Minat dalam diri seseorang ada yang timbul dengan sendirinya, yaitu yang biasa kita kenal dengan minat spontan, dan juga ada minat yang timbul dengan adanya rangsangan dari luar.


Fisika Dasar II
Menurut Witherington, timbulnya minat diawali dengan adanya pengetahuan atau informasi terhadap obyek yang diminati. Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Dalam proses belajar, minat memberikan pengaruh yang besar, karena dalam minat terkandung faktor motivasi dan emosi. Berminat terhadap suatu bidang studi menggambarkan dorongan yang kuat untuk menekuni bidang studi yang bersangkutan, sedang emosi mewarnai senang atau rasa puas tidaknya dalam kesibukan menekuni bidang tersebut.
Sesuai dengan pendapat Witherington di atas, minat dalam menekuni bidang studi elektronika dapat timbul dengan adanya pengetahuan atau informasi yang diperoleh selama perkuliahann, misalnya pada perkuliahan Fisika Dasar II.
Adanya minat yang timbul dalam diri manusia setelah mempelajari suatu pengetahuan atau mendapat informasi tentang suatu hal, misalnya setelah menyelesaikan Fisika Dasar II, akan menambah kesenangan serta menambah informasi dan pengetahuan tentang listrik dan magnet. Informasi dan pengetahuan tersebut akan memberikan bayangan program keahlian manakah yang akan ditekuni dalam menempuh studi di Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ.
Fisika Dasar II adalah bagian dari mata kuliah yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa program regular di Jurusan Teknik Elektro.
Kata Fisika berasal dari istilah Yunani yang berarti alam. Secara umum, fisika dapat diartikan sebagai ilmu alam yang ditujukan untuk mempelajari segala gejala alam yang terjadi. Fisika adalah suatu ilmu yang tujuannya mempelajari komponen materi dan interaksi di dalamnya.
Fisika merupakan salah satu cabang utama ilmu pengetahuan seperti halnya kimia, botani, dan astronomi. Namun, fisika lebih menitik beratkan pada penguraian dan analisa struktur, peristiwa-peristiwa di dalam alam, dan teknik di sekeliling kita, sehingga akan ditemukan aturan-aturan atau hukum alam yang dapat menerangkan gejala-gejalanya.

Teknik Elektronika Komunikasi
Tahun pertama perkuliahan merupakan kesempatan untuk menguji dan menggali potensi atau bakat yang dimiliki. Hal ini dapat dilihat dari hasil nilai mata kuliah inti/ dasar di jurusan. Setelah melihat hasil belajar tersebut, mahasiswa dapat menentukan pilihannya pada program studi manakah nantinya ia berkembang. Semakin tinggi atau bagus nilai yang dimiliki mahasiswa, maka potensi yang dimilikinya semakin terfokuskan dalam pemilihan tersebut.
Elektronika adalah salah satu ilmu pengetahuan yang menerapkan pengetahuan fisika. Materi elektronika dipelajari lebih dalam setelah mahasiswa mampu menyelesaikan perkuliahan Fisika Dasar II. Mata kuliah Fisika Dasar II tersebut diberikan di semester kedua, sebelum mahasiswa memilih program studi yang ada di Jurusan Teknik Elektro.
Salah satu program studi yang ada di Jurusan Teknik Elektro adalah teknik elektronika komunikasi. Program Studi ini lebih mendalam mempelajari teknik dalam bidang pembuatan dan perbaikan alat-alat elektronika, pemrograman komputer dan pembuatan jaringan komunikasi. Atas dasar itulah, perlu diadakan perkuliahan Fisika Dasar II yang dapat menunjang dalam pengembangan keahlian/ potensi mahasiswa dalam program studi teknik elektronika komunikasi.
Hasil Belajar
Belajar dan mengajar adalah suatu proses yang mengandung tiga unsur pembentuk, yaitu tujuan pengajaran (instruksional), pengalaman (proses) belajar mengajar, dan hasil belajar.
Suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan instruksional yang telah dicapai atau dikuasai oleh siswa maka dibuatlah rumusan hasil belajar, yang nantinya diperlihatkan setelah siswa menempuh proses belajar.
Jadi, hasil belajar dapat didefinisikan sebagai kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menjalani pengalaman belajar.
Untuk mengetahui hasil belajar yang telah dicapai siswa, sebagai seorang tenaga pendidik, hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan penilaian melalui suatu tes atau pengamatan langsung terhadap siswa dalam menjawab soa-soal yang diberikan. Penilaian hasil belajar yang dilakukan berfungsi sebagai :
a. Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional.
b. Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar.
c. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada orang tua.
Selain itu, tujuan diadakannya penilaian belajar oleh seorang tenaga pendidik terhadap siswa-siswanya adalah untuk:
a. Mendeskripsikan kecakapan belajar setiap siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuh.
b. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan, pengajaran serta pelatihan yang dilakukan oleh pihak sekolah, yakni seberapa jauhkah keefektifan dalam mengubah tingkah laku setiap siswa kearah tujuan pendidikan yang diharapkan.
c. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian dari masing-masing peserta didik, yakni melakukan evaluasi kearah positif melalui perbaikan dan penyempurnaan dalam program pendidikan, pengajaran dan pelatihan serta perbaikan strategi pelaksanaannya.
d. Sebagai salah satu sarana pemberian pertanggungjawaban dari pihak lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah, kepada pihak-pihak yang berkepentingan, seperti orang tua/ wali murid.
Dari uraian tentang hasil belajar yang telah disebutkan di atas, dapat digambarkan bahwa seseorang (mahasiswa) yang telah mengalami pengalaman belajar dalam mata kuliah Fisika Dasar II akan memiliki kemampuan, pengetahuan, serta keterampilan dalam bidang fisika, dalam hal ini fisika istrik dan magnet. Dengan kemampuan, pengetahuan, serta keterampilan tersebut, diharapkan setiap mahasiswa memiliki hasil belajar yang tinggi.

Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ekspost fakto dan survei, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner pada skala likert yang jawabannya sudah tersedia. Data ekspost fakto pada variabel X (data hasil belajar) digunaka dengan alasan variabel X terjadi secara alami dan bukan manipulasi, karena variabel tersebut merupakan penilaian dari dosen mengenai perkembangan siswanya. Jadi penelitian hanya mengambil data dari fakta yang terjadi di lapangan.
Hasil Penelitian yang dapat ditarik berdasarkan data yang didapat dari hasil kuesioner yang disebar kepada mahasiswa tahun 2002 pada semester ganjil tahun ajaran 2003/2004, menunjukkan bahwa pada populasi tersebut hasil belajar Fisika Dasar II tidak mempengaruhi minat memilih program studi teknik elektronika komunikasi.

Pembahasan mengenai hasil penelitian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
A. Variabel dan Disain Penelitian
1. Variabel Penelitian
a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah hasil belajar Fisika Dasar II (X)
b. Variabel terikat adalah minat memilih program studi teknik elektronika komunikasi (Y).
2. Disain Penelitian
Sesuai dengan hipotesis yang diajukan bahwa terdapat pengaruh hasil belajar Fisika Dasar II sebagai variabel bebas (X) terhadap minat memilih program studi teknik elektronika komunikasi sebagai variabel terikat (Y). disain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Hasil Belajar Minat Memilih Program Studi
Fisika Dasar II Teknik Elektronika Komunikasi

X

Y
Variabel Bebas Variabel Terikat

B. Definisi Operasional Penelitian
Untuk mempermudah pemahaman terhadap variabel penelitian, maka diuraikan definisi operasional dari variabel penelitian adalah sebagai berikut:
a. Hasil belajar Fisika Dasar II adalah nilai yang diperoleh mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan Fisika Dasar II di akhir semester.
b. Minat memilih program studi teknik elektronika komunikasi adalah skor yang diperoleh mahasiswa setelah mengisi kuesioner dengan skala likert yang dibuat oleh peneliti.
c. Sedang program studi teknik elektronika komunikasi adalah salah satu program studi yang dikembangkan oleh Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ.

C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ angkatan 2002.
Sampel penelitian ini adalah mahasiswa reguler angkatan 2002 yang telah mengikuti perkuliahan Fisika Dasar II dan akan memilih program studi teknik elektronika komunikasi atau teknik elektro.
Sampel penelitian ini diambil dengan cara sampling acak sederhana, yaitu penarikan sebagian atau seluruh sampel dari sebuah populasi dengan cara undian dan masih memiliki peluang yang sama untuk terpilih atau terambil kembali.



D. Analisa Data
Dari sampel-sampel tersebut, dengan menggunakan teori perhitungan korelasi yang dilakukan, diperoleh nilai hubungan sebesar 0,281. Nilai korelasi tersebut masuk dalam kategori hubungan yang positif antara variabel bebas dan variabel terikat, tetapi bernilai rendah. Dengan nilai korelasi tersebut dapat diketahui koefisian determinasi senilai 7,89%. Jika dilihat dari sampel, nilai koefisien determinasi tersebut menggambarkan bahwa minat memilih program studi teknik elektronika komunikasi dipengaruhi oleh hasil belajar Fisika Dasar II sebesar 7,89%. Namun saat dilakukan pengujian sampel dengan uji t untuk mengetahui pengaruh yang ada di populasi, pengujian ini tidak terbukti.

Kesimpulan
Berdasarkan analisa data di atas, kesimpulan yang dapat ditarik melauli uji hipotesis dan interpretasi pengujian hipotesis adalah tidak terdapat pengaruh antara hasil belajar Fisika Dasar II terhadap minat memilih program studi teknik elektronika komunikasi.

Implikasi
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar Fisika Dasar II yang dicapai mahasiswa kurang memberikan pengaruh untuk memilih program studi teknik elektronika komunikasi. Dengan demikian hipotesis ditolak. Sehingga hasil belajar mata kuliah Fisika Dasar II tidak dapat dijadikan tolok ukur bagi mahasiswa untuk memilih program studi teknik elektronika komunikasi.
Hal ini dapat disebabkan karena materi Fisika Dasar II di mata mahasiswa termasuk materi yang sulit. Namun hal itu dapat teratasi dengan adanya kesungguhan dalam belajar dan bimbingan atau pengarahan dari dosen yang bersangkutan terhadap materi-materi yang diberikan.

Saran
Dalam mempelajari Fisika Dasar II, sebaiknya mahasiswa melihat keterkaitan pengetahuan ini dengan materi perkuliahan lainnya yang akan diperoleh pada semester berikutnya, tujuannya agar diperoleh benang merah ketergantungan satu sama lainnya, yang pada akhirnya dapat memotivasi setiap mahasiswa dalam mencapai prestasi di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta.
Mata kuliah Fisika Dasar II merupakan materi yang cukup sulit bagi sebagian besar mahasiswa. Agar penyampaian materi ini dapat diterima, kita dapat menggunakan pendekatan belajar dengan pengajaran eksakta atau dapat pula menggunakan pendekatan proses.
Hal yang tidak kalah pentingnya adalah adanya media yang mendukung proses belajar mata kuliah tersebut yaitu melalui eksperimen, karena dengan eksperimen dapat mendukung kegiatan-kegiatan secara langsung yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari. Selain itu, agar Fisika Dasar II dapat menggugah minat mahasiswa memilih bidang studi teknik elektronika komunikasi, ada baiknya materi yang telah ada disusun sehingga lebih banyak memuat informasi dan pengetahuan yang berkaitan dengan program studi tersebut.




Rujukan Pustaka
Abdulwahab, Wisnijati Basuki. 2002. Statistika Parametrik dan Non Parametrik Untuk Penelitian, Jakarta: Fakultas Teknik-UNJ
Abror, Abd. Rachman. 1993. Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: TiaraWacana
Arikunto, Suharsimi. 1992. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitiab Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta
Azwar, Saifuddin. 2003. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Druxes, Von Herbert, et. Al. Terj. Soeparmo. 1990. Kompedium Didaktik Fisika, Bandung: Remadja Karya
Furchan, Arief. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional
Hadjar, Ibnu. 1999. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif dalam Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
H. Silaban, Pantas. 1997. Hubungan Antara Minat Belajar dan Beban Belajar Terhadap Prestasi Siswa, Visi Vol. 5 No. 1, Medan: Nommensen
Memes, Wayan. 2000. Model Pembelajaran Fisika di SMP, Jakarta: Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah Dikti-Depdiknas

SEMANGAD!

HAI PAK BAMDHA!

Rabu, 10 Juni 2009

Jurnal Skripsi Tri Putra Alizar

Pengaruh Tingkat Kemampuan Analisis Terhadap Hasil Belajar Rangkaian Listrik II
Fina Arfiani, Tri Putra Alizar

Abstrak: Setiap mahasiswa menginginkan keberhasilan dalam proses kehidupannya, tapi dalam kenyataannya mahasiswa, dalam hal ini sebagai akademisi sering gagal dalam mencapai hasil belajar yang baik. Faktor-faktor penyebabnya dikarenakan berbagai hal, baik yang ada di dalam maupun diluar dirinya. Salah satu faktor yang penting untuk menunjang keberhasilan dalam prestasi belajar adalah tingkat kemampuan analisis. Dalam penelitian ini dilihat bagaiman pengaruh dari tingkat kemampuan analisis terhaap hasil belajar Rangkaian Listrik II yang dalam proses belajarnya memerlukan proses analisis terhadap soal yang cukup baik agar bisa memahami setia apa yang diajarkan. Pembuktian terhadap hal ini menggunakan metode eksperimental, untuk melihat langsung kaitannya. Dala hasil yang didapatkan memang terdapat kaitan antara kemampuan analisis mahasiswa terhadap hasil belajar, dalam hal ini hasil belajar Rangkaian Listrik II.
Kata kunci: Kemampuan Analisis, Hasil Belajar, Rangkaian Listrik II

Setiap manusia pada umumnya selalu ingin mendapatkan yang terbaik dalam kehidupannya. Mahasiswa, dalam hal ini juga sebagai makhluk akademisi prinsipnya mempunyai peluang untuk mendapatkan hasil belajar yang memuaskan. Namun pada kenyataannya tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kegagalan dalam memperoleh hasil belajar yang memuaskan seperti keinginan dan hasrat mahasiswa tersebut.
kegagalan belajar, yang bisa dilihat dengan indikasi menurunnya prestasi belajar dapat disebabkan oleh beberapa faktor, disini peneliti membedakan faktor itu menjadi dua macam, yaitu faktor intern dan ekstern mahasiswa. Faktor Intern, adalah berbagai keadaan atau situasi yang terdapat dalam diri individu mahasiswa. Dalam faktor intern meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik mahasiswa. Sedangkan dalam faktorn ekstern, yaitu fasktor-faktor yang berupa hal-hal atau keadaaan yang datang dari luar diri mahasiswa, seperti faktor ekonomi, lingkungan keluarga, dan lain-lain. Selain faktor tersebut menurut peneliti terdapat pula faktor lain yang menimbulkan kesulitan belajar yang berupa ketidakmampuan belajar, padahal sebenarnya mahasiswa tersebut memiliki kemampuan rata-rata bahkan mungkin memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Menurut Syah Mubihin, hal ini disebabkan oleh adanya gangguan ringan pada otak.
Lalu dalam mata kuliah Rangkaian Listrik II, yang dipandang banyak megalami kesulitan, padahal dianggap sangat penting karena setelah mampu menguasai mata kuliah ini mahasiswa diharapkan akan mampu untuk melalui mata kuliah keteknikan lainnya.
Lalu dari berbagai banyak faktor yang bisa meningkatkan kemampuan belajar, dalam penelitian ini adalah mata kuliah Rangkaian Listrik II, pada penelitian kali ini Fina Arfiani mengambil tentang pengaruh dari sisi faktor kemampuan analisis yang dimiliki oleh mahasiswa.
Hal ini karena tingkat analisis merupakan suatu aspek yang penting, tapi sering terlupakan untuk melihat sebenarnya penunjang dari prestasi belajar mahasiswa.
Metode Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan metode eksperimental, yaitu dengan menggunakan percobaan langsung pada sampel, yang pada penelitian ini adalah mahasiswa Teknik Elektro Universitas Negeri Jakarta yang sedang mengikuti mata kuliah Rangkaian Listrik II. Dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang diharapkan bisa mewakili dari seluruh mahasiswa yang ada di Universitas Negeri Jakarta sebagai populasinya.
Percobaan langsung ini adalah berupa pemberian soal berupa cerita untuk melihat secara langsung tingkat analisis pada mahasiswa. Keunggulan penggunaan eksperimen dengan menggunakan soal esay selain dianggap bisa mendapatkan langsung kemampuan mahasiswa dalam menggunakan daya nalar mereka dalam mencerna sebuah soal, juga akan mampu mengantisipasi mahasiswa hanya menebak secara asal dari pertanyaan seperti yang sering terjadi pada pertanyaan yang berbentuk pilihan ganda.
Selain tes terhadap soal Rangkaian Listrik II, peneliti juga melakukan tes terhadap tingkat kemampuan analisis mahasiswa untuk melihat sejauh mana kemampuan mereka untuk bisa menganalisis suatu permasalahan yang ada. Agar bisa dilihat dengan jelas apakah terdapat hubungan yang koheren antara kedua bidang yang sedang diteliti.
Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa kemampuan analisis mempunyai pengaruh positif terhadap hasil belajar Rangkaian Listrik II, dengan nilai presentase sebesar 17%. Nilai ini didapatkan dengan menggunakan persamaan regresi dari hasil tes yang dilakukan terhadap mahasiswa yang menjadi sampel penelitian.
Pengaruh sebesar 17% ini tentu bukanlah hasil yang mutlak mengenai pengaruh kemampuan analisis, karena seperti telah dijelaskan bahwa tes yang dilakukan hanyalah mengenai arus bolak balik. Selain ittu, pada penelitian ini juga disimpulkan bahwa selain kemampuan analisis, prestasi belajar juga ditunjang dari berbagai faktor lainnya. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah kecerdasan mahasiswa, pengingatan akan rumus, kemampuan numerik dan lain-lain.
Kesimpulan mengenai hasil ini didapat setelah diadakan tes pada mahasiswa yang diteliti, yaitu pada soal tes kemampuan analisis dan tes penyelesaian soal Rangkaian Listrik II.
Pembahasan
Dalam penyampaian materi di kelas, dosen biasanya lebih sering menggunakan metode ceramah, yang sebenarnya dapat menyebabkan peranan mahasiswa menjadi lebih pasif karena kebanyakan hanya menjadi pendengar yang secara tidak langsung membuat mereka menerima begitu saja terhadap bahasan yang diberikan tanpa melibatkan proses berpikir. Hal yang terjadi adalah mahasiswa menjadi kurang memahami dan menguasai terhadap apa yang diberikan dosen dan menyebabkan hasil yang diperoleh kurang memuaskan bahkan diantaranya banyak yang berakhiran dengan nilai E (Tidak Lulus) dalam suatu mata kuliah.
Padahal metode mengajar yang seperti itu malah akan membuat mahasiswa yang diajarkan mempunyai strategi belajar dengan mengingat apa saja yang dikatakan oleh dosennya. Sangat sedikit yang mementingkan proses pemahaman terlebih dahulu. Padahal proses ini sangatlah penting untuk memudahkan mahasiswa tidak cepat lupa terhadap apa yang didapatkannya di dalam kelas ketika sedang mengikuti kuliah.
Pemahaman, pengolahan informasi, penyimpanan, serta pemecahan masalah, dalam penelitian kali ini akan dikaitkan dengan kemampuan analisis terhadap soal yang ada. Kemampuan analisis ini biasanya dikaitkan dengan proses penalaran, yaitu kegiatan akal yang mengolah pengetahuan yang diterima melalui panca indra dan ditijukan untuuk mencapai suatu kebenaran. Kemampuan analisis ini biasanya terlihat ketika adanya soal-soal dari dosen dalam bentuk esay yang membuat mahasiswa mau tidak mau harus bisa berpikir untuk menganalisa soal tersebut.
Kemampuan bernalar sudah dimiliki oleh manusia sejak lahir dan dapat berkembang sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga manusia dapat berpikir logis, analisis, dan kritis dalam mencari bagaimana berbagai hal berhubungan satu sama lain serta mencari kesimpulan.
Kemampuan analisis juga dapat berkembang namun tidak akan mudah mendapat hasil yang baik apabila tidak ada kemauan yang keras dari diri mahasiswa. Mengingat, memahami, mengaplikasi, serta memilah informasi yang terdapat dalam soal ke dalam bagian-bagiannya dan kemudian mencari hubungan antar bagian-bagian itu, merupakan langkah-langkah dari kemampuan analisis soal.
Kemampuan analisis merupakan tahapan belajar yang tingkat kesulitannya termasuk tiinggi, karena pada tahap ini mahasiswa sudah harus memiliki tiga kemampuan sebelumnya, yaitu pengetahuan (pengingatan), pemahaman, dan aplikasi sehingga tidak mengherankan mahasiswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal keteknikan. Hal ini juga yang menjadi salah satu penyebab jangka waktu kelulusan mahasiswa teknik elektro lebih lam dibandingkan dengan jurusan lainnya.
Seluruh mata kuliah Teknik Elektro membutuhkan kemampuan analisis dalam menyelesaikan soalnya, yang salah satunya adalah mata kuliah Rangkaian Listrik II. Rangkaian Listrik II merupakan mata kuliah dasar dalam Teknik Elektro. Oleh karena itu mahasiswa diharapkan untuk betul-betul memahami bidang ini.agar bisa mengikuti mata kuliah yang selanjutnya dengan baik. Pada kesempatan ini, peneliti hanya mengkhususkan pada pengaruh kemampuan analisi pada penyederhanaan rangkaian arus bolak-balik.
Tahap pengerjaan Rangkaian Listrik II pada umumnya adalah memilah informasi yang terdapat pada soal, dilanjutkan dengan penyederhanaan rangkaian yang kompleks, kemudian mencari jawaban dengan menghubungkan pertanyaan dan informasi yang sesuai dengan yang diinginkan soal. Sangat sulit bagi mahasiswa yang metode belajarnya hanya mencatat, menghapal tanpa pemahaman dan pengaplikasian.
Untuk mengetahui tingkat kemampuan analisis mahasiswa yang diujikan, peneliti memberikan tes Rangkaian Listrik yang berupa soal cerita. Karena peneliti menilai bahwa kemampuan menganalisa soal sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan prestasi belajar, sebab bila kecakapan analisis telah berkembang pada diri mahasiswa, makan ia akan mampu untuk mengaplikasikannya pada situasi baru yang kreatif. Apapun bentuk soal yang diberikan mereka dapat menyelesaiikan dengan baik dengan melibatkan proses berpikirnya.
Kemampuan analisis soal dengan selalu berlatih memecahkan soal sendiri dan memperbanyak sumber bacaan yang dapat menambah wawasan agar selalu dapat berpikir logis, kreatif, serta analisis. Adalah hal yang menjadi sangat penting untuk menambah kembali kemampuan tingkat analisis mahasiswa, pada kali kini bagi mahasiswa Teknik Elektro. Kemudian bagi para dosen, dinilai perlu untuk mengembangkan cara mengajar mereka, sehingga akan mampu meningkatkan peran mahasiswa, yang secara tidak langsung juga akan melatih mahasiswa untuk berlatih dalam peningkatan kemampuan mereka untuk menganalisis.
Kesimpulan
dari penelitian yang dilakukan, terdapat kesimpulan bahwa terdapat pengaruh dari kemampuan analisis terhadap hasil belajar Rangkaian ListrikII, yang oleh Fina Arfiani dipersentasekan sebesar 17%. Selain itu Fina juga menyimpulkan masih terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa. Hanya sayangnya Fina tidak menjelaskan bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi dalam hubungan khusus terhadap hasil belajar, dalam hal ini Rangkaian Listrik II. Sehingga terkesan apa yang diteliti menjadi sekedar sebuah simbolitas untuk menegaskan sesuatu yang sebenarnya telah ada.
Dalam penelitian ini, dilihat masih belum maksimal dan masih belum bisa untuk dijadikan sebuah acuan ataupun referensi, karena tanpa dilakukan penelitian juga hampir bisa dipastikan bahwa analisis mempunyai pengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan manusia. Dalam hal ini Fina juga masih belum bisa langsung menaruh secara general pengaruhnya teerhadap Rangkaian Listrik II secara keseluruhan, karena materi yang diteliti hanyalah pada persoalan arus bolak balik. Padahal materi belajar yang terdapat dalam Rangkaian Listrik II terdapat banyak dan luas.
Maka penulisan judul skripsi mengenai pengaruh tingkat kemampuian analisis pada Rangkaian Listrik II dipandang masih terlalu umum untuk menggambarkan persentase pengaruh kemampuan analisis ini.
Selain itu, pada penelitian ini Fina Arfiani sebagai peneliti utama tidak menjelaskan bagaimana proses kemampuan analisis mahasiswa diukur, apa yang menjadi tolak ukur dari kemampuan analisis mahasiswa itu bisa dianggap tinggi atau rendah.







Daftar Pustaka
Akhadiah, Sabarti. Kemampuan Analisis. Parameter, Majalah Ilmu dan Penelitian. Jakarta: Percetakan IKIP Jakarta No. 113
Dahar, Ratna Willis. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga, 1989
Edminister, R. L. Joseph A. Rangkaian Listrik Edisi kedua. Jakarta: Erlangga, 1984
Erwiyati, Lien. Hubiungan Antara Kemampuan Analisis dengan Hasil Belajar Siswa SMA dalam Mata Pelajaran Fisika. FPMIPA, IKIP Jakarta, 1993
Gunarsa, Singgi D. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: Gunung Mulia, 1981.
Hamalik, Oeemar, Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito, 1993
Hayt, William H. Rangkaian Listrik. Jakarta: Erlangga, 1990
Ibrahim, R. Dan Nana Syodih S. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 1996.
Mar’at. Sikap, Manusia, Perubahan Serta Pengukurannya. Bandung: Ghalia Indonesia, 1981
Mismail, Budiono. Rangkaian Listrik Jilid Kedua. Bandung: Penerbit ITB, 1997.
.. Rangkaian Listrik. Malang: Universitas Brawijaya, 1998.
Mursell, J. Dan S. Nasution. Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Murthado, Sutrisman dan G.T. Tambunan. Materi Pokok Pengajaran Matematika. Jakrta: Karuniaka, 1987.
Mussen, Paul Henry. Pertumbuhan Kepribadian Anak, Terjemahan Setyadi. Jakarta: Archan, 1989.
Purwanto, Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Karya, 1987.
Rusdianto Eduard. Penerapan Konsep Dasar Listrik dan Elektronika. Yogyakarta: Kanisius, 2002
Seputro, Theresia M.H Tirta. Pengantar Dasar Matematika Logika dan Teori Himpunan. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1992.
Slametoe, Samuel. Psikologi Pendidikan Jakarta: Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, 1982
Soemanto, Wasty. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara, 1987
Sudjana, Nana. Penilaian Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995
Suparno, Suhaenah. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta: PT. Mekar Buana Sari, 2000
Suprant, J. Pengantar Matriks. Jakarta: Rineka Cipata, 1998.
Suprasumantri, Jujun. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Agape Press, 1995.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta: PT> Raja Gravindo Persada, 2003
Tim Psikologi Universitas Padjajaran. Tiki Tes Manual. Bandung: Universitas Padjajaran, 1990.
Winkel, W.S. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Grasindo, 1995

Jurnal BAhasa oleh Dhike Marshylia

IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND

LEARNING (CTL) PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA

POKOK BAHASAN STATISTIK DAN STATISTIKA


(Suatu Penelitian Tindakan Kelas di SMA Negeri 26 Jakarta)


Sadono, Kana Hidayah Lulus Tahun 2005

Moh. Ardhi M.Pd Dosen Pembimbing

Dhike Marshylia 5215083415

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran Matematika pokok bahasan Statistik dan Statistika berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL, peningkatan atau perubahan yang terjadi, berbagai kendala yang dihadapi, serta usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi berbagai kendala tersebut.

Penelitian tindakan kelas (classroom action research) dilaksanakan dalam 2 siklus dengan subjek penelitian siswa kelas II SMA Negeri 26 Jakarta tahun pelajaran 2004/2005 pada satu kelas yang dipilih secara acak. Siklus I dilaksanakan dalam 6 pertemuan dan siklus II dalam 4 pertemuan. Kegiatan siklus I meliputi perencanaan, tindakan, monitoring, refleksi, evaluasi, dan tindak lanjut. Kegiatan siklus II merupakan tindak lanjut dan modifikasi dari siklus I. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal ulangan harian, tugas-tugas individu dan kelompok, lembar observasi

pembelajaran, dan angket respons siswa terhadap proses pembelajaran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran Matematika SMA pokok bahasan Statistik dan Statistika berdasarkan KBK dengan pendekatan CTL lebih efektif dari segi waktu maupun ketercapaian kompetensi siswa, bermakna, dan disukai para siswa. Dari hasil belajar yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan antar siklus untuk aspek kognitif sebesar 3,29% dan aspek afektif sebesar 2,22% untuk kriteria A (baik) yang disertai penurunan sebesar 2,22% untuk kriteria B (cukup). Sedangkan pada aspek psikomotorik, terjadi penurunan sebesar 2,23% untuk kriteria A (baik) dengan

disertai kenaikan sebesar 2,23% untuk kriteria B (cukup). Selain itu, khusus aspek kognitif, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya menunjukkan kenaikan rata-rata nilai sebesar 14,73 dibandingkan tahun pelajaran 2002/2003 dan sebesar 10,68 dibandingkan tahun pelajaran 2003/2004. Pada pembelajaran ini siswa sangat berminat, sifat individual dan sosial seimbang, kreativitas siswa tersalurkan dengan baik, guru dan siswa sama-sama aktif dan kreatif, dan lebih bermakna. Respons siswa sangat positif dan mengharapkan digunakannya model ini untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya. Kendala yang dihadapi meliputi: kemampuan siswa beragam, jumlah siswa cukup banyak, siswa belum terbiasa, dan secara administrasi tugas guru bertambah banyak. Berbagai usaha yang dapat dilakukan antara lain adalah melibatkan lebih dari satu guru dan kreatif mengelola kelas, sebelum kegiatan perlu adanya kesepakatan agar tertib selama

mengikuti kegaiatan, dan kalau perlu ada semacam sanksi bagi yang tidak tertib, dan tidak menangguhkan penyelesaian administrasi setelah seluruh materi selesai diberikan.

Kata Kunci : pembelajaran Matematika Pokok bahasan statistik dan statistika dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada siswa SMA Negeri 26 Jakarta

A. Latar Belakang

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah kurikulum yang dikembangkan dengan prinsip mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan dan pengembangannya melalui proses akreditasi yang memungkinkan mata pelajaran dimodifikasi. Oleh karena itu, KBK merupakan kurikulum yang paling cocok dengan tahap perkembangan kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini.

Salah satu pendekatan yang populer dianjurkan pada kegiatan pendidikan berbasis kompetensi adalah Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL direkomendasikan para ahli pendidikan diantaranya

karena mampu mengatasi berbagai kelemahan dalam kegiatan pembelajaran di Indonesia saat ini. Berbagai

kelemahan tersebut adalah: (1) sebagian besar waktu belajar sehari-hari di sekolah masih didominasi kegiatan penyampaian pengetahuan oleh guru, sementara siswa 'dipaksa' memperhatikan dan menerimanya

sehingga tidak menyenangkan dan tidak memberdayakan siswa; (2) materi pembelajaran yang bersifat abstrak-teoretis-akademis jarang dikaitkan dengan masalah-masalah yang dihadapi siswa sehari-hari; (3) penilaian hanya dilakukan dengan tes yang menekankan pengetahuan dan kurang menilai kualitas dan kemampuan belajar siswa yang autentik pada situasi yang autentik; dan (4) sumber belajar masih terfokus

pada guru dan buku, sedangkan lingkungan sekitar belum dimanfaatkan secara optimal (Jumadi, 2003:1).

Sepanjang pengetahuan dan berdasarkan pengalaman peneliti, pembelajaran Matematika di sekolah saat ini menunjukkan bahwa hasil belajarnya masih rendah, siswa sulit menerima materi Matematika yang diajarkan, siswa takut terhadap Matematika, dan siswa phobia terhadap Matematika. Meskipun ada beberapa siswa yang memperoleh prestasi tinggi dalam belajar Matematika, tetapi pada kenyataannya mereka tidak benar-benar mengerti tentang materi Matematika yang dipelajarinya. Mengerti di sini bermakna siswa benar-benar memahami bahwa Matematika yang dipelajari memiliki keterkaitan satu sama lain dan siswa dapat menerapkannya dalam penyelesaian masalah.

Untuk apa siswa belajar Matematika? Tamatan SD akan melanjutkan belajar di SLTP atau langsung bekerja. Tamatan SLTP akan melanjutkan belajar di SMA atau SMK atau langsung bekerja. Akan tetapi kenyataan tidak sebaik yang dibayangkan disebabkan oleh kondisi siswa maupun disebabkan oleh kondisi di luar siswa.

Persoalan yang muncul sekarang adalah bagaimana guru Matematika menemukan cara untuk menyampaikan materi yang diajarkan agar siswa dapat mengingat konsep tersebut lebih lama di benaknya. Selain itu, dalam kondisi tertentu siswa siap mengkombinasikan pengetahuan yang ada dalam benak

pikirannya untuk menyelesaikan masalah di dalam kehidupan riil.

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini dilakukan untuk mengungkap implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan pendekatan CTL pada mata pelajaran Matematika SMA. Penelitian dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Mengingat adanya berbagai keterbatasan, penelitian difokuskan pada salah satu pokok bahasan yang sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari para siswa, yakni Statistik dan Statistika.

Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran Matematika SMA pokok bahasan Statistik dan Statistika berdasarkan KBK dengan pendekatan CTL?; (2) peningkatan atau perubahan apa sajakah yang terjadi?; (3) bagaimana respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan?; (4) kendala apa sajakah yang dihadapi selama proses pembelajaran?; dan (5) usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut?

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana implementasi KBK dengan pendekatan CTL pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan Statistik dan Statistika di SMA. Sedangkan hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi: (1) para guru, sebagai pertimbangan dalam melakukan inovasi pembelajaran; (2) para siswa, sebagai informasi tentang pentingnya mendiagnosa kelemahan diri sendiri untuk kemudian mencari penyelesaiannya; (3) sekolah, sebagai masukan untuk mengembangkan pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu proses dan hasil belajar siswa; (4) peneliti lain, sebagai tambahan wawasan dan acuan dalam melakukan penelitian yang sejenis.

B. Kajian Pustaka

1. Pembelajaran Matematika Berbasis Kompetensi

Pembelajaran berbasis kompetensi adalah program pembelajaran dimana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa, system penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai (Urlwin, 2002: 19). Profil kompetensi lulusan SMA meliputi aspek afektif, aspek kognitif, dan aspek psikomotorik. Hal-hal yang perlu mendapat penekanan dalam pembelajaran Matematika berbasis kompetensi antara lain adalah: (1) pembelajaran berbasis kompetensi selalu mengacu pada kompetensi tertentu yang perlu dicapai siswa; (2) perlu selalu dipertahankan sifat khusus 'Pendidikan Berbasis Kompetensi' (PBK) yaitu bahwa pembelajarannya menuntut siswa mengerjakan tugas di samping berpartisipasi dalam kegiatan lain; (3) diusahakan keterpaduan antara pengetahuan dan keterampilan; (4) pembelajaran meliputi usaha belajar tuntas; (5) kecepatan belajar siswa ditentukan sendiri oleh siswa; (6) segala pendekatan yang mungkin, khususnya yang sesuai dengan kondisi siswa atau kondisi kelasnya, perlu diterapkan; dan (7) penilaian dilakukan dangan mengukur ketercapaian kompetensi-kompetensi yang sudah dirancang dalam kurikulum. (Suryanto, 2003:2-3)

Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, tugas guru Matematika antara lain: (1) meyakinkan siswa dan orang tua siswa bahwa Matematika memang diperlukan orang; (2) mengusahakan agar siswa mau dan senang belajar Matematika; (3) membantu siswa untuk memperoleh kompetensi dalam Matematika dengan memberikan pengalaman sendiri; (4) menggunakan pendekatan yang sesuai dengan gaya dan kecepatan siswa dalam belajar. (Suryanto, 2003:4)

2. Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Pembelajaran Matematika

Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong dan membantu siswa mengetahui hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Karakteristik pembelajaran berbasis CTL adalah: kerjasama, saling menunjang, gembira, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sering bersama teman, siswa kritis, dan guru kreatif. (Berns, Robert G, and Eicson, Patricia M, 2002: 46)

Dalam pembelajaran kontekstual, peran guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sesuatu yang baru yakni pengetahuan dan keterampilan datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.

Ada tujuh komponen utama dalam pembelajaran menggunakan pendekatan CTL yaitu:

a. Konstruktivisme (construktivism)

Informasi yang diterima siswa masuk ke dalam benaknya sedikit demi sedikit dan informasi tersebut akan diolah di dalam pikirannya dan disesuaikan dengan informasi-informasi terdahulu

telah diterima dan ada di dalam pikirannya,

b. Penemuan (inquiry)

Pembelajaran akan lebih bermakna apabila informasi yang berupa fakta-fakta dapat dimengerti oleh siswa dan dapat dikaitkan dengan apa yang telah dimiliki untuk menemukan keterkaitan pengetahuan yang baru saja dipelajari dengan pengetahuan lain.

c. Bertanya (questioning)

Bertanya di dalam pembelajaran kontekstual sangat besar manfaatnya. Pertanyaan dapat timbul dari siswa kepada guru, guru kepada siswa, siswa dengan siswa, dan mungkin siswa dengan narasumber yang khusus didatangkan guru untuk memberikan motivasi belajar.

d. Masyarakat belajar (learning community)

Masyarakat belajar terbentuk apabila terjadi komunikasi dua arah. Pesan yang disampaikan seseorang yang tahu kapada yang tidak tahu disampaikan melalui komunikasi dua arah. Masyarakat belajar perlu diciptakan dalam pendekatan CTL dengan membuat kelompok-kelopok

belajar.

e. Pemodelan (modeling)

Modeling dalam pembelajaran Matematika dapat diartikan bahwa siswa belajar untuk menyusun model-model Matematika yng merupakan hubungan antara fakta-fakta yang diperoleh.

f. Refleksi (reflection)

Refleksi merupakan renungan kembali tentang apa yang baru dipelajari dengan apa yang telah dimiliki sejak lama.

g. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)

Authentic assessment adalah pengumpulan data untuk mengevaluasi keberhasilan proses pembelajaran. Keberhasilan proses pembelajaran yang benar harus integratif yakni memberikan gambaran secara menyeluruh proses pembelajaran dari awal sampai akhir sehingga penilaian terhadap proses sudah seharusnya dilaksanakan.

C. Metode Penelitian

1. Pendekatan

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan tindakan kelas (classroom action

2. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas II SMA Negeri 26 Jakarta. Objek penelitian meliputi seluruh proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.

3. Rencana Tindakan

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: perencanaan, tindakan, monitoring, refleksi, evaluasi, tindak lanjut. Tindakan pada siklus II merupakan modifikasi dari tindakan yang diberikan pada siklus I dengan memperhatikan hasil evaluasi.

4. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: (1) bentuk tes seperti: kuis, pertanyaan lisan, ulangan harian, tugas individu, dan tugas kelompok; dan (2) bentuk non tes yakni bentuk instrumen yang berupa angket respons siswa dan lembar observasi kegiatan pembelajaran.

5. Pengumpulan dan Analisis Data

Pengumpulan data dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dalam keseluruhan siklus yang digunakan untuk menjawab permasalahan yang diajukan.

D. Pembahasan Dan Hasil Penelitian

1. Deskripsi Hasil Penelitian

a. Hasil Kegiatan Pembelajaran Siklus I

Sebelum kegiatan pembelajaran, peneliti menyusun program tahunan, program semester, satuan pelajaran, rencana pembelajaran, silabus dan sistem penelitian, jenis-jenis tagihan yang akan digunakan, serta rencana perbaikan dan pengayaan. Selain itu, peneliti juga menyusun pedoman observasi dan lembar observasi kegiatan pembelajaran, serta angket respons siswa, juga menyusun pedoman observasi dan lembar observasi kegiatan pembelajaran, serta angket respons siswa.

Kegiatan pembelajaran pada siklus I ini dilakukan peneliti dengan memanfaatkan beberapa tempat antara lain: ruang kelas, area parkir sekolah, ruang UKS, perpustakaan serta ruang laboratorium komputer dan internet. Adapun pertemuan kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dalam enam pertemuan dengan pertemuan keenam adalah pelaksanaan ulangan harian I.

Berdasarkan hasil observasi diperoleh bahwa pada awalnya siswa masih belum aktif dan suasana kelas belum kondusif walaupun guru sudah memberikan informasi mengenai pendekatan dan metode yang akan digunakan. Kondisi ini secara perlahan berubah seiring dilaksanakannya kegiatan yang dibuat bervariasi.

Berdasarkan hasil refleksi diperoleh bahwa siswa merasa senang karena proses pembelajaran tidak membosankan dan siswa semakin memahami materi. Namun demikian, siswa masih merasa terbebani dengan tugas yang diberikan. Sedangkan bagi guru, pembelajaran ini membuat peran guru sebagai fasilitator berjalan dengan baik.

Penelitian terhadap aspek afektif yang berupa minat meliputi: kehadiran, bertanya di kelas, ketepatan tugas, kerapian catatan, kelengëapan catatan, membaca di perpustakaan, kelengkapan referensi, partisipasi dalam kelompok, etika berpendapat, dan kerapian tugas. Adapun aspek afektif yang berupa etika dan moral meliputi: kedatangan ke sekolah, kerapian seragam sekolah, mengucap salam, ketelitian tugas, berdoa sebelum belajar, berbicara dengan santun, siap untuk membantu, merapikan tempat duduk, menjaga kebersihan, dan berjamaah sholat dhuhur di masjid sekolah.

Penilaian terhadap aspek psikomotorik meliputi: menyiapkan alat, mencatat data, memasang alat ukur, membaca hasil pengukuran, dan mengirim tugas lewat internet. Adapun penilaian terhadap aspek kognitif dilakukan dengan pemberian kuis, tugas individu, tugas kelompok, pertanyaan lisan, dan ulangan harian.

Hasil belajar siswa pada aspek kognitif diperoleh rata-rata nilai 77,82, pada aspek afektif dengan kriteria baik (A) ada 35 siswa (77,78%) dan kriteria cukup (B) ada 10 siswa (22,22%), dan pada aspek psikomotorik dengan kriteria baik (A) ada 43 siswa (95,56%) dan kriteria cukup (B) ada 2 siswa (4,44%). Berdasarkan seluruh temuan selama siklus I, terdapat beberapa masukan untuk lebih baiknya kegiatan pada siklus II. Berbagai masukan tersebut antara lain adalah: dikuranginya kegiatan di luar kelas, lebih diperbanyak diskusi, lebih banyak latihan sosial, dan tidak terlalu banyak tugas.

b. Hasil Kegiatan Pembelajaran Siklus II

Kegiatan pembelajaran pada siklus II dilaksanakan mengacu pada perancanaan pembelajaran yang telah disusun dengan berbagai perubahan mengingat dan mempertimbangkan berbagai

masukan dari siklus I.

Kegiatan pembelajaran pada siklus II dilakukan dalam empat pertemuan dengan pertemuan keempat adalah pelaksanaan ulangan harian II. Kegiatan pembelajaran pada siklus II ini juga dilakukan peneliti dengan memanfaatkan beberapa tempat selain ruang kelas seperti perpustakaan dan laboratorium komputer dan internet.

Berdasarkan hasil observasi, siswa semakin terbiasa dengan pendekatan dan metode pembelajaran yang digunakan. Hal ini tampak pada antusiasme dan semangat para siswa terutama dalam hal mengerjakan latihan soal, melakukan diskusi, pemahaman konsep secara lebih baik, dan suasana kelas yang menyenangkan, tidak monoton, tidak membosankan, dan lebih kondusif.

Berdasarkan hasil refleksi siklus II diperoleh bahwa siswa merasa sangat senang dan nyaman dengan pembelajaran yang dilakukan dan mengharapkan agar metode pembelajaran ini diterapkan lagi untuk pembelajaran selanjutnya. Adapun bagi guru, kegiatan yang dilakukan terasa efektif dan efisien baik dari sisi waktu maupun ketercapaian standar kompetensinya, serta peran guru sebagai fasilitator menjadi lebih baik. Adanya penilaian yang menyeluruh terasa semakin manusiawi dan mampu mengungkap kompetensi yang telah dicapai para siswa.

Kegiatan evaluasi pada siklus II juga meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian terhadap aspek afektif juga meliputi aspek minat, etika, dan moral siswa selama kegiatan pembelajaran seperti pada siklus I. Penilaian terhadap aspek psikomotorik pada siklus II agak berbeda dengan siklus I karena materi yang berbeda pula. Pada siklus II penilaian pada aspek psikomotorik meliputi kesiapan menggunakan fasilitas komputer/internet, memasukkan data, menganalisis data, membaca interpretasi hasil analisis, dan mengirim tugas lewat internet. Adapun penilaian terhadap aspek kognitif sebagaimana pada siklus I

dilakukan dengan pemberian kuis, tugas individu, tugas kelompok, pertanyaan lisan, dan ulangan harian. Pada siklus II ini frekuensi pemberian tugas dibuat lebih proposional sehingga tidak terlalu membebani para siswa.

Hasil belajar siswa pada aspek kognitif diperoleh rata-rata nilai 81,11, pada aspek afektif dengan kriteria baik (A) sekitar 36 siswa (80%) dan kriteria cukup (B) ada 9 siswa (20%), dan pada aspek psikomotorik dengan kriteria baik (A) ada 42 siswa (93,33%) dan kriteria cukup (B) ada siswa (6,67%).

Berdasarkan pengalaman dan hasil yang diperoleh selama kegiatan pembelajaran, sebagaimana pada siklus I, maka pada siklus II ini terdapat masukan dari para siswa yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan yakni digunakannya pendekatan dan metode pembelajaran seperti yang telah dilaksanakan pada pembelajaran-pembelajaran materi berikutnya.

c. Perbandingan Hasil Belajar Siswa

Perbandingan hasil belajar siswa antara siklus I dan II menunjukkan adanya peningkatan pada

aspek kognitif yakni sebesar 3,29. Demikian juga untuk aspek afektif juga terjadi peningkatan sebesar 2,22% untuk kriteria A (baik) yang disertai penurunan sebesar 2,22% untuk kriteria B (cukup). Adapun pada aspek psikomotorik, ternyata terjadi penurunan sebesar 2,22% untuk criteria A (baik) dengan disertai kenaikan sebesar 2,23% pada kriteria B (cukup).

Selain itu juga terjadi peningkatan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran CTL dibandingkan dengan pembelajaran non CTL. Besarnya kenaikan rata-rata nilai siswa yang mengikuti pembelajaran CTL masing-masing adalah sebesar 14,73 jika dibandingkan dengan hasil belajar siswa tahun pelajaran 2002/2003 dan sebesar 10,68 jika dibandingkan dengan hasil belajar siswa tahun pelajaran 2003/2004.

d. Hasil Angket Respons Siswa

Berdasarkan hasil angket menunjukkan bahwa presentase sangat setuju (SS) dan setuju (S)mendominasi hampir seluruh butir kecuali pada butir nomor 17, 22, dan 25. Selain itu, ada dua butiryang tidak terdapat adanya respons TS dan STS yaitu butir nomor 1 dan 29. Butir 1 menunjukkan bahwa seluruh siswa setuju apabila belajar Matematika senantiasa memanfaatkan alam sekitar (56% SS dan 44% S). Sedangkan pada butir 29 berarti bahwa seluruh siswa merasa senang jika diberi penilaian apabila mereka mengerjakan soal di papan tulis (49% SS dan 51% S).

Berdasarkan pernyataan dalam angket, presentase yang tinggi pada pernyataan sangat setuju dan setuju pada butir-butir lainnya menunjukkan berbagai hal diantaranya sebagai berikut: 1) siswa setuju kegiatan belajar Matematika untuk pokok bahan Statistik dan Statistika dilakukan tidak hanya di kelas (31% SS, 58% S, dan 11% TS); 2) data statistik yang didapat secara langsung di tempat parkir dan pengukuran tinggi badan, berat badan di UKS terasa lebih bermakna dalam pembelajaran Statistik dan Statistika daripada hanya mengambil dari buku diktat (33% SS, 64% S, dan 2% TS); 3) membuat diagram dengan cara manual dapat melatih siswa untuk bekerja lebih teliti (40% SS, 53%

S, dan 7% TS); 4) membuat diagram dengan menggunakan komputer program excel sangat diperlukan karena memanfaatkan hasil teknologi untuk proses pembelajaran (40% SS, 56% S, dan 4% TS); dan 5) mengirimkan tugas lewat email di internet memberikan pengalaman tersendiri karena lebih praktis dan dapat memanfaatkan hasil teknologi informasi (27% SS, 53% S, 18% TS, dan 2% STS). Berdasarkan isian yang diisi oleh siswa, sebagian besar siswa mengharapkan digunakan metode dan pendekatan CTL ini untuk pembelajaran materi-materi selanjutnya.

2. Pembahasan

Pelaksanaan pembelajaran Matematika pokok bahasan Statistik dan Statistika berbasis

kompetensi dengan pendekatan CTL ternyata sangat membantu siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran dan peran guru sebagai fasilitator terlaksana dengan sangat baik. Selain itu, suasana kelas lebih menyenangkan, kondusif, tidak membosankan, dan tidak monoton. Efisiensi waktu dan materi juga menjadi lebih baik. Adanya berbagai tugas dan menyeluruhnya aspek penilaian menjadikan siswa dan guru semakin meningkatkan aktivitas dan hasil belajarnya. Hal ini sesuai dengan karakteristik pembelajaran berbasis CTL sebagaimana dikemukakan Berns, Robert G, and Ericson, Patricia M. (2002:46) yakni adanya kerjasama, saling menunjang, gembira, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan teman, siswa kritis, dan guru kreatif.

Model pembelajaran ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk bertanya. Jika biasanya pembelajaran Matematika diberikan sesuai dengan yang ada dalam buku, maka dalam pembelajaran ini tidak demikian. Pada pembelajaran ini mereka mencari, mengelola, dan menganalisa data serta menemukan rumus yang mudah diingat. Selama ini mereka hanya menerima rumus dan tidak pernah tahu kegunaan rumus tersebut. Sedangkan pada pembelajaran ini mereka dihadapkan pada persoalan yang terjadi di sekitar mereka. Hal ini menjadikan siswa lebih mudah memahami konsep dan lebih terampil menyelesaikan masalah karena konsep diperkenalkan melalui masalah nyata yang ada di sekitar siswa.

Kemudahan dalam berkomunikasi baik dalam kelompok maupun dengan kelompok lain memudahkan para siswa mengerti yang dipelajari. Selain itu, hal yang paling menarik adalah siswa bisa belajar di luar kelas seperti di tempat parkir, UKS, perpustakaan, serta laboratorium komputer dan internet. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran ini lebih mudah, fleksibel, dan waktunya dapat dipergunakan secara lebih efektif. Dari segi waktu, jika pada pendekatan non CTL biasanya memerlukan waktu kurang lebih 26 jam pelajaran, maka dengan pendekatan CTL cukup butuh waktu kurang lebih 16 jam pelajaran. Evaluasi yang dilakukan menyeluruh dalam pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL sangat tepat, manusiawi, dan lebih efektif dibandingkan dengan evaluasi yang dilakukan sebelumnya karena di sekitar siswa banyak yang dapat digunakan sebagai alat pembelajaran dan setiap aktivitas dapat dievaluasi baik dari sikap maupun hasil karyanya.

Berdasarkan pengalaman yang diperoleh menunjukkan bahwa antara pembelajaran dengan CTL dan non CTL yang dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya terjadi perbedaan yang cukup menonjol. Pada pembelajaran dengan non CTL, siswa kurang berminat, sifat individual dominan, kreativitas kurang tersalurkan, aktivitas guru dominan, siswa tidak bisa memanfaatkan komputer dan internet, belajar kurang bermakna karena jauh dari kehidupan siswa dan alam sekitar, dan hasil belajar siswa lebih rendah. Sebaliknya, pada pambelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL menunjukkan bahwa siswa sangat berminat, sifat individual dan sosial seimbang, kreativitas siswa tersalurkan, guru dan siswa sama-sama aktif dan kreatif, siswa merasa senang karena dapat memanfaatkan komputer dan internet, belajar lebih bermakna karena yang dipelajari dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan hasil belajar siswa lebih tinggi. Kondisi diatas sangat didukung oleh hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa antar siklus, yakni pada aspek kognitif yakni sebesar 3,29. Pada aspek afektif juga terjadi peningkatan sebesar 2,22% untuk kriteria A (baik) yang disertai penurunan sebesar 2,22% untuk kriteria B (cukup). Adapun pada aspek psikomotorik, ternyata terjadi penurunan sebesar 2,23% untuk kriteria A (baik) dengan disertai kenaikan sebesar 2,23% pada kriteria B (cukup).

Terjadinya penurunan pada aspek psikomotorik dalam penelitian ini diantaranya mungkin disebabkan karena kegiatan yang melibatkan aspek psikomotorik lebih banyak berkaitan dengan teknologi yakni komputer dan internet yang tidak seluruh siswa mahir menjalankannya. Tidak seperti pada siklus sebelumnya, siswa tidak mengalami hambatan dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan mengumpulkan dan mencatat data baik di area parkir atau di ruang UKS. Selain peningkatan antar siklus, peningkatan hasil belajar siswa yang menggunakan pendekatan CTL dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bersifat non CTL menunjukkan kenaikan rata-rata nilai sebesar 14,73 jika dibandingkan dengan hasil belajar siswa tahun pelajaran 2002/2003 dan sebesar 10,68 jika dibandingkan dengan hasil belajar siswa tahun pelajaran 2003/2004. Berdasarkan hasil angket, respons siswa menunjukkan adanya sikap positif terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Mayoritas siswa merasa tidak setuju apabila dianggap hanya belajar Matematika jika ada PR saja. Mayoritas siswa juga tidak setuju jika guru Matematika senantiasa memanfaatkan alam sekitar. Dan seluruh siswa merasa senang jika diberi penilaian apabila mereka mengerjakan soal di papan tulis. Berdasarkan beberapa respon di atas tampak sekali bahwa siswa

sangat menyukai kegiatan pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL yang telah dilakukan. Hal ini semakin diperkuat dengan saran yang diajukan para siswa yakni digunakannya model pembelajaran seperti ini untuk kegiatan pembelajaran pada materi-materi selanjutnya. Walaupun dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran Matematika berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL ini telah berhasil, namun berbagai kendala juga harus dihadapi selama kegiatan berlangsung. Kendala tersebut antara lain adalah: 1) kemampuan siswa yang beragam menuntut perhatian yang khusus dari guru. Kadang-kadang kelas menjadi ramai sehingga diperlukan kemampuan guru mengelola kelas dengan lebih baik. Dan pada model pembelajaran ini sangatdibutuhkan kerjasama yang baik antara guru dengan siswa dimana guru menyusun perangkat pembelajaran sebaik mungkin sesuai CTL dan siswa aktif dalam pembelajaran; 2) jumlah siswa satu kelas sebanyak 45 orang membuat pengamatan kurang cermat. Idealnya jumlah siswa dalam satu kelas adalah sekitar 20 orang; 3) siswa belum terbiasa belajar dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sehingga ketika siswa diajak keluar kelas merasa mudah lelah dan menimbulkan perasaan tidak enak terhadap guru lain yang mengajar di dalam kelas ketika mengajak siswa keluar kelas karena suasanalebih gaduh; 4) secara administrasi tugas guru bertambah banyak sehingga untuk menyelesaikan perlu

banyak waktu.Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut dapat dilakukan berbagai hal berikut: 1) untuk mengatasi kemampuan siswa yang beragam dan jumlah siswa yang banyak, idealnya dala pembelajaran melibatkan lebih dari satu guru. Jika tidak memungkinkan, maka guru harus betul-betul kreatif mengelola kelas; 2) untuk mengatasi kondisi siswa yang belum terbiasa âelajar dengan memanfaatkan alam sekitar maka sebelum kegiatan pembelajaran dimulai perlu adanya kesepakatandengan siswa agar tertib selama mengikuti kegiatan dan kalau perlu ada semacam sanksi bagi yang tidak tertib, dan 3) guna mengatasi lebih banyaknya waktu yang dibutuhkan guru berkaitan dengan kegiatan administrasi, perlu disiasati dengan tidak menangguhkan penyelesaian pada akhir pembelajaran setelah seluruh materi selesai dipelajari, melainkan segera diselesaikan setelah kegiatan belajar mengajar dilakukan bahkan kalau perlu melibatkan para siswa.

E. Kesimpulan Dan Saran

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a) Pelaksanaan pembelajaran Matematika SMA pokok bahasan Statistik dan Statistéka berdasarkan KBK dengan pendekatan CTL lebih efektif.

b) Peningkatan atau perubahan yang terjadi selama proses pembelajaran berkaitan dengan hasil belajar siswa dan perubahan cara belajar ke arah yang lebih baik.

c) Respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan sangat positif dan para siswa mengharapkan digunakannya model pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL ini untuk kegiatan pembelajaran pada materi-materi selanjutnya.

d) Kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran meliputi kemampuan siswa yang beragam, jumlah siswa yang banyak (45 orang), siswa belum terbiasa, dan secara administrasi tugas guru bertambah banyak.

e) Berbagai usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala antara lain adalah melibatkan lebih dari satu guru atau instruktur. Jika tidak memungkinkan guru harus betul-betul kreatif mengelola kelas. Perlu adanya kesepakatan dengan siswa agar tertib dan kalau perlu ada sanksi bagi yang tidak tertib. Dan tidak menangguhkan penyelesaian administrasi setelah seluruh materi selesai dipelajari siswa.

2. Saran

Saran-saran yang diajukan dalam penelitian ini antara lain:

a) Kepada para guru Matematika, marilah terus melakukan inovasi pembelajaran.

b) Kepada para kepada sekolah, berbagai inovasi guru dalam pembelajaran kiranya perlu disambut dan direspons dengan baik dan positif.

Daftar Pustaka

Ary, Donald; Jacobs, Lucy Cheser; Razavieh, Asghar. 1985. Introduction to Research in Education. New York: CBS College Publishing.

Berns, Robert G, and Ericson, Patricia M. (2002). Contextual Teaching and Learning.

http//nccte.com/publication/infosynthesis/highlighzone/highligh05/highligh05-ctl.html.

Blanchard, Alan. (2001). Contextual Teaching and Learning. B. E. S. T. USA.

Departemen Pendidikan Nasional (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.

Jumadi. (2004). Ringkasan Materi Pembelajaran Kontekstual (CTL) dan Implementasinya (Makalah). Disampaikan pada workshop Sosialisasi dan implementasi kurikulum 2004 di Madrasah Aliyah 19-24 Januari 2004.

Urlwin, Trevor (2002). Presentation on the Seminar on Competensi Based Curriculum. Yogyakarta:

Universitas Negeri Yogyakarta. Ary, Donald; Jacobs, Lucy Cheser; Razavieh, Asghar. 1985. Introduction to Research in Education. New York: CBS College Publishing.