IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND
LEARNING (CTL) PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA
POKOK BAHASAN STATISTIK DAN STATISTIKA
(Suatu Penelitian Tindakan Kelas di SMA Negeri 26 Jakarta)
Sadono, Kana Hidayah Lulus Tahun 2005
Moh. Ardhi M.Pd Dosen Pembimbing
Dhike Marshylia 5215083415
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran Matematika pokok bahasan Statistik dan Statistika berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL, peningkatan atau perubahan yang terjadi, berbagai kendala yang dihadapi, serta usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk
Penelitian tindakan kelas (classroom action research) dilaksanakan dalam 2 siklus dengan subjek penelitian siswa kelas II SMA Negeri 26 Jakarta tahun pelajaran 2004/2005 pada satu kelas yang dipilih secara acak. Siklus I dilaksanakan dalam 6 pertemuan dan siklus II dalam 4 pertemuan. Kegiatan siklus I meliputi perencanaan, tindakan, monitoring, refleksi, evaluasi, dan tindak lanjut. Kegiatan siklus II merupakan tindak lanjut dan modifikasi dari siklus I. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal ulangan harian, tugas-tugas individu dan kelompok, lembar observasi
pembelajaran, dan angket respons siswa terhadap proses pembelajaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran Matematika SMA pokok bahasan Statistik dan Statistika berdasarkan KBK dengan pendekatan CTL lebih efektif dari segi waktu maupun ketercapaian kompetensi siswa, bermakna, dan disukai para siswa. Dari hasil belajar yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan antar siklus untuk aspek kognitif sebesar 3,29% dan aspek afektif sebesar 2,22% untuk kriteria A (baik) yang disertai penurunan sebesar 2,22% untuk kriteria B (cukup). Sedangkan pada aspek psikomotorik, terjadi penurunan sebesar 2,23% untuk kriteria A (baik) dengan
disertai kenaikan sebesar 2,23% untuk kriteria B (cukup). Selain itu, khusus aspek kognitif, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya menunjukkan kenaikan rata-rata nilai sebesar 14,73 dibandingkan tahun pelajaran 2002/2003 dan sebesar 10,68 dibandingkan tahun pelajaran 2003/2004. Pada pembelajaran ini siswa sangat berminat, sifat individual dan sosial seimbang, kreativitas siswa tersalurkan dengan baik, guru dan siswa sama-sama aktif dan kreatif, dan lebih bermakna. Respons siswa sangat positif dan mengharapkan digunakannya model ini untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya. Kendala yang dihadapi meliputi: kemampuan siswa beragam, jumlah siswa cukup banyak, siswa belum terbiasa, dan secara administrasi tugas guru bertambah banyak. Berbagai usaha yang dapat dilakukan antara lain adalah melibatkan lebih dari satu guru dan kreatif mengelola kelas, sebelum kegiatan perlu adanya kesepakatan agar tertib selama
mengikuti kegaiatan, dan kalau perlu ada semacam sanksi bagi yang tidak tertib, dan tidak menangguhkan penyelesaian administrasi setelah seluruh materi selesai diberikan.
Kata Kunci : pembelajaran Matematika Pokok bahasan statistik dan statistika dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada siswa SMA Negeri 26 Jakarta
A. Latar Belakang
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah kurikulum yang dikembangkan dengan prinsip mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan dan pengembangannya melalui proses akreditasi yang memungkinkan mata pelajaran dimodifikasi. Oleh karena itu, KBK merupakan kurikulum yang paling cocok dengan tahap perkembangan kondisi pendidikan di
Salah satu pendekatan yang populer dianjurkan pada kegiatan pendidikan berbasis kompetensi adalah Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL direkomendasikan para ahli pendidikan diantaranya
karena mampu mengatasi berbagai kelemahan dalam kegiatan pembelajaran di
kelemahan tersebut adalah: (1) sebagian besar waktu belajar sehari-hari di sekolah masih didominasi kegiatan penyampaian pengetahuan oleh guru, sementara siswa 'dipaksa' memperhatikan dan menerimanya
sehingga tidak menyenangkan dan tidak memberdayakan siswa; (2) materi pembelajaran yang bersifat abstrak-teoretis-akademis jarang dikaitkan dengan masalah-masalah yang dihadapi siswa sehari-hari; (3) penilaian hanya dilakukan dengan tes yang menekankan pengetahuan dan kurang menilai kualitas dan kemampuan belajar siswa yang autentik pada situasi yang autentik; dan (4) sumber belajar masih terfokus
pada guru dan buku, sedangkan lingkungan sekitar belum dimanfaatkan secara optimal (Jumadi, 2003:1).
Sepanjang pengetahuan dan berdasarkan pengalaman peneliti, pembelajaran Matematika di sekolah saat ini menunjukkan bahwa hasil belajarnya masih rendah, siswa sulit menerima materi Matematika yang diajarkan, siswa takut terhadap Matematika, dan siswa phobia terhadap Matematika. Meskipun ada beberapa siswa yang memperoleh prestasi tinggi dalam belajar Matematika, tetapi pada kenyataannya mereka tidak benar-benar mengerti tentang materi Matematika yang dipelajarinya. Mengerti di sini bermakna siswa benar-benar memahami bahwa Matematika yang dipelajari memiliki keterkaitan satu sama lain dan siswa dapat menerapkannya dalam penyelesaian masalah.
Untuk apa siswa belajar Matematika?
Persoalan yang muncul sekarang adalah bagaimana guru Matematika menemukan cara untuk menyampaikan materi yang diajarkan agar siswa dapat mengingat konsep tersebut lebih lama di benaknya. Selain itu, dalam kondisi tertentu siswa siap mengkombinasikan pengetahuan yang ada dalam benak
pikirannya untuk menyelesaikan masalah di dalam kehidupan riil.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini dilakukan untuk mengungkap implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan pendekatan CTL pada mata pelajaran Matematika SMA. Penelitian dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 1
Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran Matematika SMA pokok bahasan Statistik dan Statistika berdasarkan KBK dengan pendekatan CTL?; (2) peningkatan atau perubahan apa sajakah yang terjadi?; (3) bagaimana respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan?; (4) kendala apa sajakah yang dihadapi selama proses pembelajaran?; dan (5) usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut?
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana implementasi KBK dengan pendekatan CTL pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan Statistik dan Statistika di SMA. Sedangkan hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi: (1) para guru, sebagai pertimbangan dalam melakukan inovasi pembelajaran; (2) para siswa, sebagai informasi tentang pentingnya mendiagnosa kelemahan diri sendiri untuk kemudian mencari penyelesaiannya; (3) sekolah, sebagai masukan untuk mengembangkan pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu proses dan hasil belajar siswa; (4) peneliti lain, sebagai tambahan wawasan dan acuan dalam melakukan penelitian yang sejenis.
B. Kajian Pustaka
1. Pembelajaran Matematika Berbasis Kompetensi
Pembelajaran berbasis kompetensi adalah program pembelajaran dimana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa, system penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai (Urlwin, 2002: 19). Profil kompetensi lulusan SMA meliputi aspek afektif, aspek kognitif, dan aspek psikomotorik. Hal-hal yang perlu mendapat penekanan dalam pembelajaran Matematika berbasis kompetensi antara lain adalah: (1) pembelajaran berbasis kompetensi selalu mengacu pada kompetensi tertentu yang perlu dicapai siswa; (2) perlu selalu dipertahankan sifat khusus 'Pendidikan Berbasis Kompetensi' (PBK) yaitu bahwa pembelajarannya menuntut siswa mengerjakan tugas di samping berpartisipasi dalam kegiatan lain; (3) diusahakan keterpaduan antara pengetahuan dan keterampilan; (4) pembelajaran meliputi usaha belajar tuntas; (5) kecepatan belajar siswa ditentukan sendiri oleh siswa; (6) segala pendekatan yang mungkin, khususnya yang sesuai dengan kondisi siswa atau kondisi kelasnya, perlu diterapkan; dan (7) penilaian dilakukan dangan mengukur ketercapaian kompetensi-kompetensi yang sudah dirancang dalam kurikulum. (Suryanto, 2003:2-3)
Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, tugas guru Matematika antara lain: (1) meyakinkan siswa dan orang tua siswa bahwa Matematika memang diperlukan orang; (2) mengusahakan agar siswa mau dan senang belajar Matematika; (3) membantu siswa untuk memperoleh kompetensi dalam Matematika dengan memberikan pengalaman sendiri; (4) menggunakan pendekatan yang sesuai dengan gaya dan kecepatan siswa dalam belajar. (Suryanto, 2003:4)
2. Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Pembelajaran Matematika
Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong dan membantu siswa mengetahui hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Karakteristik pembelajaran berbasis CTL adalah: kerjasama, saling menunjang, gembira, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sering bersama teman, siswa kritis, dan guru kreatif. (Berns, Robert G, and Eicson, Patricia M, 2002: 46)
Dalam pembelajaran kontekstual, peran guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sesuatu yang baru yakni pengetahuan dan keterampilan datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.
a. Konstruktivisme (construktivism)
Informasi yang diterima siswa masuk ke dalam benaknya sedikit demi sedikit dan informasi tersebut akan diolah di dalam pikirannya dan disesuaikan dengan informasi-informasi terdahulu
telah diterima dan ada di dalam pikirannya,
b. Penemuan (inquiry)
Pembelajaran akan lebih bermakna apabila informasi yang berupa fakta-fakta dapat dimengerti oleh siswa dan dapat dikaitkan dengan apa yang telah dimiliki untuk menemukan keterkaitan pengetahuan yang baru saja dipelajari dengan pengetahuan lain.
c. Bertanya (questioning)
Bertanya di dalam pembelajaran kontekstual sangat besar manfaatnya. Pertanyaan dapat timbul dari siswa kepada guru, guru kepada siswa, siswa dengan siswa, dan mungkin siswa dengan narasumber yang khusus didatangkan guru untuk memberikan motivasi belajar.
d. Masyarakat belajar (learning community)
Masyarakat belajar terbentuk apabila terjadi komunikasi dua arah. Pesan yang disampaikan seseorang yang tahu kapada yang tidak tahu disampaikan melalui komunikasi dua arah. Masyarakat belajar perlu diciptakan dalam pendekatan CTL dengan membuat kelompok-kelopok
belajar.
e. Pemodelan (modeling)
Modeling dalam pembelajaran Matematika dapat diartikan bahwa siswa belajar untuk menyusun model-model Matematika yng merupakan hubungan antara fakta-fakta yang diperoleh.
f. Refleksi (reflection)
Refleksi merupakan renungan kembali tentang apa yang baru dipelajari dengan apa yang telah dimiliki sejak lama.
g. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Authentic assessment adalah pengumpulan data untuk mengevaluasi keberhasilan proses pembelajaran. Keberhasilan proses pembelajaran yang benar harus integratif yakni memberikan gambaran secara menyeluruh proses pembelajaran dari awal sampai akhir sehingga penilaian terhadap proses sudah seharusnya dilaksanakan.
C. Metode Penelitian
1. Pendekatan
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan tindakan kelas (classroom action
2. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas II SMA Negeri 26 Jakarta. Objek penelitian meliputi seluruh proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.
3. Rencana Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: perencanaan, tindakan, monitoring, refleksi, evaluasi, tindak lanjut. Tindakan pada siklus II merupakan modifikasi dari tindakan yang diberikan pada siklus I dengan memperhatikan hasil evaluasi.
4. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: (1) bentuk tes seperti: kuis, pertanyaan lisan, ulangan harian, tugas individu, dan tugas kelompok; dan (2) bentuk non tes yakni bentuk instrumen yang berupa angket respons siswa dan lembar observasi kegiatan pembelajaran.
5. Pengumpulan dan Analisis Data
Pengumpulan data dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dalam keseluruhan siklus yang digunakan untuk menjawab permasalahan yang diajukan.
D. Pembahasan Dan Hasil Penelitian
1. Deskripsi Hasil Penelitian
a. Hasil Kegiatan Pembelajaran Siklus I
Sebelum kegiatan pembelajaran, peneliti menyusun program tahunan, program semester, satuan pelajaran, rencana pembelajaran, silabus dan sistem penelitian, jenis-jenis tagihan yang akan digunakan, serta rencana perbaikan dan pengayaan. Selain itu, peneliti juga menyusun pedoman observasi dan lembar observasi kegiatan pembelajaran, serta angket respons siswa, juga menyusun pedoman observasi dan lembar observasi kegiatan pembelajaran, serta angket respons siswa.
Kegiatan pembelajaran pada siklus I ini dilakukan peneliti dengan memanfaatkan beberapa tempat antara lain: ruang kelas, area parkir sekolah, ruang UKS, perpustakaan serta ruang laboratorium komputer dan internet. Adapun pertemuan kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dalam enam pertemuan dengan pertemuan keenam adalah pelaksanaan ulangan harian I.
Berdasarkan hasil observasi diperoleh bahwa pada awalnya siswa masih belum aktif dan suasana kelas belum kondusif walaupun guru sudah memberikan informasi mengenai pendekatan dan metode yang akan digunakan. Kondisi ini secara perlahan berubah seiring dilaksanakannya kegiatan yang dibuat bervariasi.
Berdasarkan hasil refleksi diperoleh bahwa siswa merasa senang karena proses pembelajaran tidak membosankan dan siswa semakin memahami materi. Namun demikian, siswa masih merasa terbebani dengan tugas yang diberikan. Sedangkan bagi guru, pembelajaran ini membuat peran guru sebagai fasilitator berjalan dengan baik.
Penelitian terhadap aspek afektif yang berupa minat meliputi: kehadiran, bertanya di kelas, ketepatan tugas, kerapian catatan, kelengëapan catatan, membaca di perpustakaan, kelengkapan referensi, partisipasi dalam kelompok, etika berpendapat, dan kerapian tugas. Adapun aspek afektif yang berupa etika dan moral meliputi: kedatangan ke sekolah, kerapian seragam sekolah, mengucap salam, ketelitian tugas, berdoa sebelum belajar, berbicara dengan santun, siap untuk membantu, merapikan tempat duduk, menjaga kebersihan, dan berjamaah sholat dhuhur di masjid sekolah.
Penilaian terhadap aspek psikomotorik meliputi: menyiapkan alat, mencatat data, memasang alat ukur, membaca hasil pengukuran, dan mengirim tugas lewat internet. Adapun penilaian terhadap aspek kognitif dilakukan dengan pemberian kuis, tugas individu, tugas kelompok, pertanyaan lisan, dan ulangan harian.
Hasil belajar siswa pada aspek kognitif diperoleh rata-rata nilai 77,82, pada aspek afektif dengan kriteria baik (A) ada 35 siswa (77,78%) dan kriteria cukup (B) ada 10 siswa (22,22%), dan pada aspek psikomotorik dengan kriteria baik (A) ada 43 siswa (95,56%) dan kriteria cukup (B) ada 2 siswa (4,44%). Berdasarkan seluruh temuan selama siklus I, terdapat beberapa masukan untuk lebih baiknya kegiatan pada siklus II. Berbagai masukan tersebut antara lain adalah: dikuranginya kegiatan di luar kelas, lebih diperbanyak diskusi, lebih banyak latihan sosial, dan tidak terlalu banyak tugas.
b. Hasil Kegiatan Pembelajaran Siklus II
Kegiatan pembelajaran pada siklus II dilaksanakan mengacu pada perancanaan pembelajaran yang telah disusun dengan berbagai perubahan mengingat dan mempertimbangkan berbagai
masukan dari siklus I.
Kegiatan pembelajaran pada siklus II dilakukan dalam empat pertemuan dengan pertemuan keempat adalah pelaksanaan ulangan harian II. Kegiatan pembelajaran pada siklus II ini juga dilakukan peneliti dengan memanfaatkan beberapa tempat selain ruang kelas seperti perpustakaan dan laboratorium komputer dan internet.
Berdasarkan hasil observasi, siswa semakin terbiasa dengan pendekatan dan metode pembelajaran yang digunakan. Hal ini tampak pada antusiasme dan semangat para siswa terutama dalam hal mengerjakan latihan soal, melakukan diskusi, pemahaman konsep secara lebih baik, dan suasana kelas yang menyenangkan, tidak monoton, tidak membosankan, dan lebih kondusif.
Berdasarkan hasil refleksi siklus II diperoleh bahwa siswa merasa sangat senang dan nyaman dengan pembelajaran yang dilakukan dan mengharapkan agar metode pembelajaran ini diterapkan lagi untuk pembelajaran selanjutnya. Adapun bagi guru, kegiatan yang dilakukan terasa efektif dan efisien baik dari sisi waktu maupun ketercapaian standar kompetensinya, serta peran guru sebagai fasilitator menjadi lebih baik. Adanya penilaian yang menyeluruh terasa semakin manusiawi dan mampu mengungkap kompetensi yang telah dicapai para siswa.
Kegiatan evaluasi pada siklus II juga meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian terhadap aspek afektif juga meliputi aspek minat, etika, dan moral siswa selama kegiatan pembelajaran seperti pada siklus I. Penilaian terhadap aspek psikomotorik pada siklus II agak berbeda dengan siklus I karena materi yang berbeda pula. Pada siklus II penilaian pada aspek psikomotorik meliputi kesiapan menggunakan fasilitas komputer/internet, memasukkan data, menganalisis data, membaca interpretasi hasil analisis, dan mengirim tugas lewat internet. Adapun penilaian terhadap aspek kognitif sebagaimana pada siklus I
dilakukan dengan pemberian kuis, tugas individu, tugas kelompok, pertanyaan lisan, dan ulangan harian. Pada siklus II ini frekuensi pemberian tugas dibuat lebih proposional sehingga tidak terlalu membebani para siswa.
Hasil belajar siswa pada aspek kognitif diperoleh rata-rata nilai 81,11, pada aspek afektif dengan kriteria baik (A) sekitar 36 siswa (80%) dan kriteria cukup (B) ada 9 siswa (20%), dan pada aspek psikomotorik dengan kriteria baik (A) ada 42 siswa (93,33%) dan kriteria cukup (B) ada siswa (6,67%).
Berdasarkan pengalaman dan hasil yang diperoleh selama kegiatan pembelajaran, sebagaimana pada siklus I, maka pada siklus II ini terdapat masukan dari para siswa yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan yakni digunakannya pendekatan dan metode pembelajaran seperti yang telah dilaksanakan pada pembelajaran-pembelajaran materi berikutnya.
c. Perbandingan Hasil Belajar Siswa
Perbandingan hasil belajar siswa antara siklus I dan II menunjukkan adanya peningkatan pada
aspek kognitif yakni sebesar 3,29. Demikian juga untuk aspek afektif juga terjadi peningkatan sebesar 2,22% untuk kriteria A (baik) yang disertai penurunan sebesar 2,22% untuk kriteria B (cukup). Adapun pada aspek psikomotorik, ternyata terjadi penurunan sebesar 2,22% untuk criteria A (baik) dengan disertai kenaikan sebesar 2,23% pada kriteria B (cukup).
Selain itu juga terjadi peningkatan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran CTL dibandingkan dengan pembelajaran non CTL. Besarnya kenaikan rata-rata nilai siswa yang mengikuti pembelajaran CTL masing-masing adalah sebesar 14,73 jika dibandingkan dengan hasil belajar siswa tahun pelajaran 2002/2003 dan sebesar 10,68 jika dibandingkan dengan hasil belajar siswa tahun pelajaran 2003/2004.
d. Hasil Angket Respons Siswa
Berdasarkan hasil angket menunjukkan bahwa presentase sangat setuju (SS) dan setuju (S)mendominasi hampir seluruh butir kecuali pada butir nomor 17, 22, dan 25. Selain itu, ada dua butiryang tidak terdapat adanya respons TS dan STS yaitu butir nomor 1 dan 29. Butir 1 menunjukkan bahwa seluruh siswa setuju apabila belajar Matematika senantiasa memanfaatkan alam sekitar (56% SS dan 44% S). Sedangkan pada butir 29 berarti bahwa seluruh siswa merasa senang jika diberi penilaian apabila mereka mengerjakan soal di papan tulis (49% SS dan 51% S).
Berdasarkan pernyataan dalam angket, presentase yang tinggi pada pernyataan sangat setuju dan setuju pada butir-butir lainnya menunjukkan berbagai hal diantaranya sebagai berikut: 1) siswa setuju kegiatan belajar Matematika untuk pokok bahan Statistik dan Statistika dilakukan tidak hanya di kelas (31% SS, 58% S, dan 11% TS); 2) data statistik yang didapat secara langsung di tempat parkir dan pengukuran tinggi badan, berat badan di UKS terasa lebih bermakna dalam pembelajaran Statistik dan Statistika daripada hanya mengambil dari buku diktat (33% SS, 64% S, dan 2% TS); 3) membuat diagram dengan cara manual dapat melatih siswa untuk bekerja lebih teliti (40% SS, 53%
S, dan 7% TS); 4) membuat diagram dengan menggunakan komputer program excel sangat diperlukan karena memanfaatkan hasil teknologi untuk proses pembelajaran (40% SS, 56% S, dan 4% TS); dan 5) mengirimkan tugas lewat email di internet memberikan pengalaman tersendiri karena lebih praktis dan dapat memanfaatkan hasil teknologi informasi (27% SS, 53% S, 18% TS, dan 2% STS). Berdasarkan isian yang diisi oleh siswa, sebagian besar siswa mengharapkan digunakan metode dan pendekatan CTL ini untuk pembelajaran materi-materi selanjutnya.
2. Pembahasan
Pelaksanaan pembelajaran Matematika pokok bahasan Statistik dan Statistika berbasis
kompetensi dengan pendekatan CTL ternyata sangat membantu siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran dan peran guru sebagai fasilitator terlaksana dengan sangat baik. Selain itu, suasana kelas lebih menyenangkan, kondusif, tidak membosankan, dan tidak monoton. Efisiensi waktu dan materi juga menjadi lebih baik. Adanya berbagai tugas dan menyeluruhnya aspek penilaian menjadikan siswa dan guru semakin meningkatkan aktivitas dan hasil belajarnya. Hal ini sesuai dengan karakteristik pembelajaran berbasis CTL sebagaimana dikemukakan Berns, Robert G, and Ericson, Patricia M. (2002:46) yakni adanya kerjasama, saling menunjang, gembira, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan teman, siswa kritis, dan guru kreatif.
Model pembelajaran ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk bertanya. Jika biasanya pembelajaran Matematika diberikan sesuai dengan yang ada dalam buku, maka dalam pembelajaran ini tidak demikian. Pada pembelajaran ini mereka mencari, mengelola, dan menganalisa data serta menemukan rumus yang mudah diingat. Selama ini mereka hanya menerima rumus dan tidak pernah tahu kegunaan rumus tersebut. Sedangkan pada pembelajaran ini mereka dihadapkan pada persoalan yang terjadi di sekitar mereka. Hal ini menjadikan siswa lebih mudah memahami konsep dan lebih terampil menyelesaikan masalah karena konsep diperkenalkan melalui masalah nyata yang ada di sekitar siswa.
Kemudahan dalam berkomunikasi baik dalam kelompok maupun dengan kelompok lain memudahkan para siswa mengerti yang dipelajari. Selain itu, hal yang paling menarik adalah siswa bisa belajar di luar kelas seperti di tempat parkir, UKS, perpustakaan, serta laboratorium komputer dan internet. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran ini lebih mudah, fleksibel, dan waktunya dapat dipergunakan secara lebih efektif. Dari segi waktu, jika pada pendekatan non CTL biasanya memerlukan waktu kurang lebih 26 jam pelajaran, maka dengan pendekatan CTL cukup butuh waktu kurang lebih 16 jam pelajaran. Evaluasi yang dilakukan menyeluruh dalam pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL sangat tepat, manusiawi, dan lebih efektif dibandingkan dengan evaluasi yang dilakukan sebelumnya karena di sekitar siswa banyak yang dapat digunakan sebagai alat pembelajaran dan setiap aktivitas dapat dievaluasi baik dari sikap maupun hasil karyanya.
Berdasarkan pengalaman yang diperoleh menunjukkan bahwa antara pembelajaran dengan CTL dan non CTL yang dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya terjadi perbedaan yang cukup menonjol. Pada pembelajaran dengan non CTL, siswa kurang berminat, sifat individual dominan, kreativitas kurang tersalurkan, aktivitas guru dominan, siswa tidak bisa memanfaatkan komputer dan internet, belajar kurang bermakna karena jauh dari kehidupan siswa dan alam sekitar, dan hasil belajar siswa lebih rendah. Sebaliknya, pada pambelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL menunjukkan bahwa siswa sangat berminat, sifat individual dan sosial seimbang, kreativitas siswa tersalurkan, guru dan siswa sama-sama aktif dan kreatif, siswa merasa senang karena dapat memanfaatkan komputer dan internet, belajar lebih bermakna karena yang dipelajari dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan hasil belajar siswa lebih tinggi. Kondisi diatas sangat didukung oleh hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa antar siklus, yakni pada aspek kognitif yakni sebesar 3,29. Pada aspek afektif juga terjadi peningkatan sebesar 2,22% untuk kriteria A (baik) yang disertai penurunan sebesar 2,22% untuk kriteria B (cukup). Adapun pada aspek psikomotorik, ternyata terjadi penurunan sebesar 2,23% untuk kriteria A (baik) dengan disertai kenaikan sebesar 2,23% pada kriteria B (cukup).
Terjadinya penurunan pada aspek psikomotorik dalam penelitian ini diantaranya mungkin disebabkan karena kegiatan yang melibatkan aspek psikomotorik lebih banyak berkaitan dengan teknologi yakni komputer dan internet yang tidak seluruh siswa mahir menjalankannya. Tidak seperti pada siklus sebelumnya, siswa tidak mengalami hambatan dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan mengumpulkan dan mencatat data baik di area parkir atau di ruang UKS. Selain peningkatan antar siklus, peningkatan hasil belajar siswa yang menggunakan pendekatan CTL dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bersifat non CTL menunjukkan kenaikan rata-rata nilai sebesar 14,73 jika dibandingkan dengan hasil belajar siswa tahun pelajaran 2002/2003 dan sebesar 10,68 jika dibandingkan dengan hasil belajar siswa tahun pelajaran 2003/2004. Berdasarkan hasil angket, respons siswa menunjukkan adanya sikap positif terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Mayoritas siswa merasa tidak setuju apabila dianggap hanya belajar Matematika jika ada PR saja. Mayoritas siswa juga tidak setuju jika guru Matematika senantiasa memanfaatkan alam sekitar. Dan seluruh siswa merasa senang jika diberi penilaian apabila mereka mengerjakan soal di papan tulis. Berdasarkan beberapa respon di atas tampak sekali bahwa siswa
sangat menyukai kegiatan pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL yang telah dilakukan. Hal ini semakin diperkuat dengan saran yang diajukan para siswa yakni digunakannya model pembelajaran seperti ini untuk kegiatan pembelajaran pada materi-materi selanjutnya. Walaupun dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran Matematika berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL ini telah berhasil, namun berbagai kendala juga harus dihadapi selama kegiatan berlangsung. Kendala tersebut antara lain adalah: 1) kemampuan siswa yang beragam menuntut perhatian yang khusus dari guru. Kadang-kadang kelas menjadi ramai sehingga diperlukan kemampuan guru mengelola kelas dengan lebih baik. Dan pada model pembelajaran ini sangatdibutuhkan kerjasama yang baik antara guru dengan siswa dimana guru menyusun perangkat pembelajaran sebaik mungkin sesuai CTL dan siswa aktif dalam pembelajaran; 2) jumlah siswa satu kelas sebanyak 45 orang membuat pengamatan kurang cermat. Idealnya jumlah siswa dalam satu kelas adalah sekitar 20 orang; 3) siswa belum terbiasa belajar dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sehingga ketika siswa diajak keluar kelas merasa mudah lelah dan menimbulkan perasaan tidak enak terhadap guru lain yang mengajar di dalam kelas ketika mengajak siswa keluar kelas karena suasanalebih gaduh; 4) secara administrasi tugas guru bertambah banyak sehingga untuk menyelesaikan perlu
banyak waktu.Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut dapat dilakukan berbagai hal berikut: 1) untuk mengatasi kemampuan siswa yang beragam dan jumlah siswa yang banyak, idealnya dala pembelajaran melibatkan lebih dari satu guru. Jika tidak memungkinkan, maka guru harus betul-betul kreatif mengelola kelas; 2) untuk mengatasi kondisi siswa yang belum terbiasa âelajar dengan memanfaatkan alam sekitar maka sebelum kegiatan pembelajaran dimulai perlu adanya kesepakatandengan siswa agar tertib selama mengikuti kegiatan dan kalau perlu ada semacam sanksi bagi yang tidak tertib, dan 3) guna mengatasi lebih banyaknya waktu yang dibutuhkan guru berkaitan dengan kegiatan administrasi, perlu disiasati dengan tidak menangguhkan penyelesaian pada akhir pembelajaran setelah seluruh materi selesai dipelajari, melainkan segera diselesaikan setelah kegiatan belajar mengajar dilakukan bahkan kalau perlu melibatkan para siswa.
E. Kesimpulan Dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
a) Pelaksanaan pembelajaran Matematika SMA pokok bahasan Statistik dan Statistéka berdasarkan KBK dengan pendekatan CTL lebih efektif.
b) Peningkatan atau perubahan yang terjadi selama proses pembelajaran berkaitan dengan hasil belajar siswa dan perubahan cara belajar ke arah yang lebih baik.
c) Respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan sangat positif dan para siswa mengharapkan digunakannya model pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan CTL ini untuk kegiatan pembelajaran pada materi-materi selanjutnya.
d) Kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran meliputi kemampuan siswa yang beragam, jumlah siswa yang banyak (45 orang), siswa belum terbiasa, dan secara administrasi tugas guru bertambah banyak.
e) Berbagai usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala antara lain adalah melibatkan lebih dari satu guru atau instruktur. Jika tidak memungkinkan guru harus betul-betul kreatif mengelola kelas. Perlu adanya kesepakatan dengan siswa agar tertib dan kalau perlu ada sanksi bagi yang tidak tertib. Dan tidak menangguhkan penyelesaian administrasi setelah seluruh materi selesai dipelajari siswa.
2. Saran
Saran-saran yang diajukan dalam penelitian ini antara lain:
a) Kepada para guru Matematika, marilah terus melakukan inovasi pembelajaran.
b) Kepada para kepada sekolah, berbagai inovasi guru dalam pembelajaran kiranya perlu disambut dan direspons dengan baik dan positif.
Daftar Pustaka
Ary, Donald; Jacobs, Lucy Cheser; Razavieh, Asghar. 1985. Introduction to Research in Education.
Berns, Robert G, and Ericson, Patricia M. (2002). Contextual Teaching and Learning.
http//nccte.com/publication/infosynthesis/highlighzone/highligh05/highligh05-ctl.html.
Blanchard, Alan. (2001). Contextual Teaching and Learning. B. E. S. T. USA.
Departemen Pendidikan Nasional (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Jumadi. (2004). Ringkasan Materi Pembelajaran Kontekstual (CTL) dan Implementasinya (Makalah). Disampaikan pada workshop Sosialisasi dan implementasi kurikulum 2004 di Madrasah Aliyah 19-24 Januari 2004.
Urlwin, Trevor (2002). Presentation on the Seminar on Competensi Based Curriculum.
Universitas Negeri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar